Translate

Songsong Kebangkitan Gerakan Mahasiswa Dunia Merebut Hak atas Pendidikan, Pekerjaan, dan Kebebasan Berserikat!*




: Hentikan Perampasan Upah, Tanah, dan Kerja!



  1. Sejarah Perjalanan Pemuda Indonesia


Tanggal 28 Oktober 2010, seluruh Pemuda di Indonesia akan memperingati Hari Sumpah Pemuda yang menginjak usianya ke 80 (delapan puluh). Usianya bahkan lebih tua di bandingkan usia dari kemerdekaan Indonesia sendiri, tentu sangat penting bagi kalangan pemuda dan mahasiswa di Indonesia menggali kembali makna dibalik sumpah pemuda tersebut dan semangat apakah yang harus dilanjutkan oleh kaum pemuda dan mahasiswa di Indonesia dalam kenyataan perjuangan rakyat di Indonesia saat ini sebagai negeri setengah jajahan dan setengah feodal di bawah penindasan serta penghisapan imperialisme, foedalisme dan kapitalisme birokrat yang dijalankan oleh kekuasaaan bersama borjuasi besar komprador, tuan tanah besar dan kapitalis birokrat melalui pemerintahan SBY-Boediono yang saat ini sedang berkuasa.

Sumpah pemuda, janji keramat para pemuda Indonesia yang di deklarasikan tanggal 28 Oktober 1928. Sumpah para pemuda ini berisikan nafas cinta terhadap rakyat Indonesia yang berjanji akan selalu mengabdikan diri pada bangsa dan negara Indonesia. Apalagi saat itu keadaan Indonesia sedang berada di bawah belenggu langsung Kolonialisme Belanda. Tentu keberadaan sumpah pemuda ini semakin menjelaskan bagaimana para pemuda Indonesia menyadari sepenuhnya peran dan tanggung jawabnya atas perjuangan seluruh rakyat Indonesia. Baik atas perjuangan kaum tani, kelas buruh dan golongan lain rakyat Indonesia melawan kolonialisme Belanda. Hal ini juga dapat dilihat bahwa sebelum sumpah pemuda dilahirkan oleh kaum pemuda telah memiliki andil besar dalam kancah pergerakan politik nasional ketika itu yang lebih dikenal sebagai zaman “Kebangkitan Nasional” atau lahirnya sebuah kesadaran meluas dari kalangan massa rakyat Indonesia ketika itu untuk mencapai kemerdekaan sebagai sebuah bangsa dan rakyat dari belenggu kolonialisme Belanda.

 

Perjalanan Perjuangan Pemuda Indonesia

Kelahiran sumpah pemuda sendiri tidak terlepas dari sejarah panjang bangsa dan rakyat Indonesia dalam melawan kekuasaan kolonial Belanda ratusan tahun lamanya. Tempaan-tempaan  perjuangan rakyat Indonesia yang panjang dan  keras dengan taruhan darah dan nyawa rakyat sepanjang ratusan tahun lamanya tersebut. Perjuangan rakyat Indonesia untuk menghilangkan rantai penindasan kolonialisme Belanda telah menjadi pelajaran tersendiri untuk melakukan sebuah perjuangan pembebasan nasional yang lebih baik. Ini ditandai dengan lahirnya kesadaran berorganisasi dan melakukan aksi-aksi perjuangan yang lebih maju dan terorganisasikan mulai dari pemogokan sampai perjuangan rakyat bersenjata.

Kemudian memasuki abad 20an, terjadi perubahan besar dalam perjuangan rakyat Indonesia, dengan mulai munculnya semangat kemerdekaan sebagai sebuah bangsa dan lahirnya organisasi-organisasi modern (ormas dan partai politk) sebagai alat perjuangan rakyat. Gerakan ini banyak dimotori oleh kaum muda terpelajar. Ketika itu banyak kalangan pemuda dari golongan priyayi yang menempuh kuliah di perguruan tinggi seperti STOVIA, IHS, bahkan ke luar ngeri[1]. Kaum pemuda terpejalar ketika itu kemudian banyak mempelajari teori-teori dari negeri-negeri barat. Mereka mempelajari tentang berbagai perjuangan rakyat di berbagai negeri untuk mendapatkan kemerdekaannya seperti revolusi prancis, ataupun tentang revolusi industri, teori-teori marxis dan juga situasi tentang perkembangan internasional seperti revolusi besar Oktober 1917 di Rusia. Hal ini telah memberikan inspirasi tersendiri bagi mereka untuk menuangkan ide-ide akan perubahan dalam kenyataan kehidupan rakyat dan bangsa Indonesia di bawah penindasan kaum kolonial Belanda.

Selain itu, hal penting yang disadari bahwa kelahiran organisasi-organisasi modern yang dimotori kalangan pemuda pelajar, juga tidak terlepas dari mulai bangkitnya perjuangan klas buruh di Indonesia. Dalam tahun 1905, lahir organisasi buruh kereta api Staats Spoorwegen (SS) Bond. Pada tahun 1908, didirikan VSTP (Vereniging van Spoor–en Tram Personeel) yang didirikan tahun 1908. Tulang punggungnya adalah kaum buruh kereta api NIS (Nederlands Indische Spoorwegenmaatschappij).

Sesudah berdirinya VSTP, muncullah organisasi pertama dari kaum intelektual Indonesia, yaitu Budi Utomo tahun 1908. Pendorong utamanya adalah seorang dokter, Wahidin Sudirohusodo. Tujuannya ikut membantu  ke arah perkembangan yang harmonis dari negeri dan rakyat Jawa dan Madura. Untuk tujuan itu, Budi Utomo akan menggunakan cara-cara yang diijinkan oleh undang-undang  dan akan memberikan bantuan pada usaha-usaha yang arahnya sama. Budi Utomo tidak berkembang di kalangan massa rakyat. Keanggotaannya terbatas pada kaum lapisan atas masyarakat. Itu sebabnya mengapa Budi Utomo dalam kehidupan politik Indonesia tidak memegang peranan penting. Dalam perkembangan selanjutnya organisasi kaum intelektual dan ningrat ini ketinggalan di belakang.

Kemudian tumbuhlah berbagai organisasi massa dan partai politik. Tahun 1916, didirikan PPPB (Perserikatan Pegawai Pegadaian Bumiputra) di Yogyakarta. Tahun 1917, muncul Kweekschoolbond (Persatuan Guru keluaran Kweekschool/sekolah guru) di Yogyakarta. Tahun 1920 muncul PGB (Perserikatan Guru Bantu) berpusat di Solo. Di kalangan kaum buruh gula lahir PFB (Personeel Fabrieks Bond) di Yogyakarta, tahun 1920. Kaum buruh pekerjaan umum mendirikan VIPBOW (Vereniging van Inlandse Personeel Burgelijke Openbare Werken) di Mojokerto. Tahun 1919, buruh pelabuhan mendirikan HAB (Haven Arbeiders Bond) berpusat di Semarang. Buruh percetakan mendirikan SPP (Serekat Pegawai Percetakan) tahun 1920, berpusat di Semarang. Juga didirikan SPPH (Serekat Pegawai Pelikan Hindia) yang berpusat di Semarang. Didirikan juga PPDH (Perserikatan Pegawai Dinas Hutan) tahun 1920 dan berpusat di Purwokerto. Pada tahun 1919, telah berdiri vaksentral buruh bernama Persatuan Pergerakan Kaum Buruh (PPKB). Di awal tahun 1918, lahir Perhimpunan Kaum Buruh dan Tani (PKBT) yang kemudian dipecah menjadi dua. Menjadi Perserikatan kaum Tani (PKT), di samping Perserikatan Kaum Buruh Onderneming (PKBO) di daerah-daerah pabrik gula.

Sementara itu organisasi gerakan pemuda sendiri diawali dengan lahirnya Trikoro Darmo (Tiga Tujuan Mulya) atas prakarsa Budi Utomo pada Maret 1915 di Jakarta. Tujuan organisasi ini adalah mempersatukan pemuda untuk tugas di kemudian hari sebagai patriot. Aktivitas yang dilakukan oleh Trikoro Darmo hanya terbatas pada pemuda-pemuda Jawa, organisasi ini tidak bisa berkembang baik dan menarik pemuda dari suku bangsa-suku bangsa lain karena tebalnya provinsialisme (semangat kedaerahan) ketika itu. Sekalipun demikian, kemajuan jaman terus mendorong gerakan pemuda ke arah yang lebih tinggi, sekalipun jalannya tidak begitu lancar.

Usaha mempersatukan pemuda Jawa, Sunda dan Madura senantiasa dijadikan acara pokok dalam kongres Trikoro Darmo. Dalam kongres tahun 1918, Trikoro Darmo dirubah menjadi Jong Java untuk lebih berhasil dalam memperluas sayap. Tetapi itupun tidak mencapai hasil. Persatuan baru tercapai sesudah melewati proses yang agak panjang dan berliku-liku. Lahirnya Jong Java merangsang pemuda suku bangsa-suku bangsa lain untuk mendirikan perkumpulan mereka sendiri. Di Sumatra lahir Jong Sumatranen Bond, di Maluku muncul Jong Ambon, di Sulawesi utara Jong Minahasa, di daerah Batak Jong Batak dls. Baru pada tahun 1926 oleh berbagai organisasi pemuda itu dilangsungkan kongres bersama di Jakarta, yaitu Eerste Indonesisch Jeugd Congres dengan maksud untuk mengabdikan gerakan pemuda pada cita-cita persatuan Indonesia. Tetapi baru dalam tahun 1930 cita-cita persatuan itu dapat diwujudkan.

Selanjutnya, bermunculanlah berbagai partai-partai politik yang kemudian berperan sebagai alat untuk memperjuangkan kepentingan rakyat Indonesia[2]. Salah satu organisasi modern terbesar yang pernah ada dan cukup ditakuti oleh pemerintah kolonial, yaitu Serikat Islam (berdiri tahun 1911 dengan nama awal Sarekat Dagang Islam). Awalnya diinisiasi oleh seorang lulusan Stovia bernama Raden Mas Tirtoadisuryo yang dalam perjalanannya (baca : Sarekat Islam) mampu menjadi corong bagi kebangkitan gerakan rakyat di Indonesia. Pergerakan dan perjuangan ini terutama yang dimotori SI Semarang. Kehadiran SI telah memberi inspirasi bagi lahirnya organisasi-organisasi modern lainnya seperti Indische Partij 1912, Indische Sociaal Democratische Vereniging  (ISDV) 1914, Partai Nasional Indonesia (PNI) 1927 dan Perhimpunan Indonesia (PI) 1916 I Belanda.

Kebangkitan Perlawanan Rakyat melawan kekuasaan kolonial Belanda, 1926-1927 dan meletusnya revolusi besar Oktober 1917 di Rusia serta bangkitnya gerakan pembebasan nasional di berbagai negeri, semakin membuka kesadaran kaum pemuda dan pemuda terpejalar akan penting “kemerdekaan” bagi bangsa dan rakyat Indonesia. Di zaman ini, terkenal dengan istilah gerakan Non-Kooperasi melawan Belanda. Artinya, tidak melakukan kerjasama sedikitpun dengan kaum kolonial Belanda.

Sejak tahun 1924, di berbagai kota besar lahir lingkaran-lingkaran studi dari kaum intelektual yang ingin memegang peranan dalam gerakan kemerdekaan Indonesia dan mendorong maju gerakan itu. Berbagai lingkaran itu menggunakan nama ”Studieclub” dan berkembang subur di kota-kota seperti Surabaya, Solo, Yogyakarta, Semarang, Bogor, Jakarta dan Bandung.

Dari beberapa studieclub yang ada, yang paling menonjol adalah Algemeene Studieclub Bandung. Begitu penting kedudukannya sampai-sampai H.Clijn dalam bukunya memberikan sorotan khusus[3]. Sutdieclub ini dalam perkembangannya menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI) dengan tokoh utamanya Ir. Soekarno (Bung Karno) yang dalam perjalanan selanjutnya menjadi orang nomor satu di Republik ini sejak Proklamasi RI, 17 Agusutsu 1945 dan terkenal dengan pledoi ini di pengadilan Belanda “Indonesia Menggugat”.

Tahun 1928, semangat berkobar-kobar pemuda Indonesia untuk mempersatukan berbagai organisasi mereka dalam satu wadah. Tanggal 27-28 Oktober 1928, berhasil diselenggarakan kongres pemuda ke II yang sangat bersejarah. Pemrakarsa kongres adalah Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI). Kongres kali ini berhasil meletakkan dasar-dasar persatuan tidak saja di kalangan pemuda dan gerakan kemerdekaan nasional, tetapi juga dari seluruh nation Indonesia. Lahirlah sumpah pemuda yang terkenal dengan semboyan ; “Kita pemuda Indonesia berbangsa satu, Bangsa Indonesia. Kita pemuda Indonesia berbahasa satu, bahasa Indonesia. Kita pemuda Indonesia bertanah air satu, tanah air Indonesia.” Dalam kongres inilah, pertama kali lagu kebangsaan “Indonesia Raya” diperkenalkan kepada seluruh rakyat Indonesia, dipimpin langsung oleh komponisnya sendiri, Wage Rudolf Supratman.

Segera sesudah lagu “Indonesia Raya” mendengung di dalam Kongres Pemuda II, seluruh Indonesia seperti terkena arus listrik untuk terus-menerus melakukan perjuangan melawan penindasan kolonialisme Belanda. Dari mana-mana datang permintaan teks lagu itu. Sesudah itu “Indonesia Raya” dinyanyikan pada setiap ada kesempatan. Begitu antusias rakyat Indonesia menyambut lagu kebangsaannya, begitu ketakutan pemerintah kolonial terhadapnya. Keluarlah putusan “Indonesia Raya” tidak boleh dinyanyikan. Perlawanan pun timbul. Di mana-mana membanjir protes terhadap larangan tersebut. Akhirnya pemerintah mundur. “Indonesia Raya” boleh dinyanyikan asal teksnya dirubah. Ternyata yang ditakuti adalah perkataan “merdeka”. Itulah sebabnya mengapa lagu kebangsaan yang semula diberi nama “Indonesia Merdeka” dirubah menjadi “Indonesia Raya”. Permulaan refrein “Indonesia, Indonesia, Merdeka, Merdeka” lalu dirubah menjadi “Indonesia Raya, Mulia, Mulia”. Sekeluarnya Soekarno dari penjara Sukamiskin, teks dirubah lagi menjadi bentuk yang sekarang ini.[4]

Cita-cita penyatuan berbagai organisasi pemuda terlaksana pada Desember 1930. Pada saat itu, berbagai organisasi pemuda (kecuali yang berdasarkan agama) meleburkan diri dalam satu organisasi dengan nama Indonesia Muda. Bagian putrinya diberi nama Kaputrian Indonesia Muda. Di antara yang meleburkan diri dalam Indonesia Muda terdapat Jong Java yang sebelumnya bernama Trikoro Dharmo. Dalam paruh pertama tahun 30-an, muncul organisasi pemuda lainnya yang menyatakan dirinya golongan non-intelektual, yaitu “Persatuan Pemuda Revolusioner Indonesia (PERPRI)” dan Suluh pemuda Indonesia (SPI). Dalam tahun 1935, pemerintah Hindia Belanda mengadakan penggeledahan di rumah-rumah pimpinan PERPRI, disusul oleh penangkapan dan penahanan. Di Yogya beberapa di antara mereka di ajukan ke depan meja hijau dan dijatuhi hukuman penjara rata-rata selama 1 tahun. PERPRI dikenakan peraturan larangan bersidang. Ini berarti organisasi pemuda tersebut dibunuh secara pelan-pelan.

Setelah itu kaum pemuda banyak mengambil peran aktif dalam gerakan bawah tanah melawan penjajahan kaum imperialis-kolonialis Jepang dan mempertahankan kemerdekaan RI atau Revolusi Agustus ’45. Akan tetapi, perjuangan tanpa henti yang dilakukan oleh rakyat Indonesia sejak berates-ratus tahun. Akhirnya dikhianati oleh borjuasi komprador Hatta-Sjahrir dalam Konfrensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda 1949. Dalam kesepakatan atau diplomasi ala borjuasi kompardor tersebut yang yang diketahui oleh khalyak umum. Pertama, kita Indonesia wajib mengganti kerugian perang kepada Belanda sebesar 178.000.000.000 Gulden. Kedua, menunggu hingga tahun 1960 untuk memerdekakan Papua dari belenggu kolonialisme Belanda. Ketiga, memaksa para tentara rakyat untuk tidak mendekati garis Van Mook (beberapa daerah yang masih di kooptasi oleh Belanda). Keempat, menghentikan nasionalisasi aset-aset milik Belanda.

Akhirnya membubarkan beberapa upaya konsolidasi kaum muda secara nasional yang ketika itu tergabung dalam Badan Kongres Pemuda Rebulik Indonesia (BKPRI) dan peranan laskar pemuda yang aktif dalam perjuangan revolusioner melawan kaum kolonial Belanda dan Sekutu dalam melawan upaya rekolonialisasi dan penghapusan kekuasan feudal di dalam negeri, sekaligus menandai masa setengah jajahan dan setengah foedal di Indonesia.

Pelajaran penting dari sejarah singkat ini adalah, bahwa lahirnya Sumpah Pemuda tidak terlepas dari bangkitnya perlawanan rakyat Indonesia melawan kolonialisme Belanda, baik diawali dengan terbentuknya SS Bond hingga VSTP dan bangkitnya perjuangan Rakyat Indonesia dibeberapa daerah (Jawa dan Sumatra) di Indonesia dalam pemberontakan tahun 1926-27 melawan kekuasaan kaum Kolonial Belanda. Di sisi yang lain, telah lahir satu kemenangan besar perjuangan klas buruh di Rusia tahun 1917 yang telah menjadi inspirasi tersendiri bagi kaum muda Indonesia untuk menentang kolonialisme. Karena Revolusi Besar Oktober 1917, telah membuka babak baru perjuangan rakyat di seluruh dunia dalam menentang dunia yang telah memasuki fase dominasi penindasan dan penghisapan imperialisme (tingkat tertinggi dari kapitalisme). Pelajaran penting lainnya, yang patut dicatat adalah pemuda ketika itu (sejak kebangkitan nasional hingga revolusi Agustus 45) mencurahkan sepenuhnya tenaga dan pikirannya untuk mengabdi kepada rakyat untuk mewujudkan Indonesia sebagai rakyat dan bangsa yang merdeka dari belenggu kolonialisme.

 

  1. Sejarah Hari Mahasiswa International


Sejarah Hari Mahasiswa Internasional (International Students’ Day) berawal pada tahun 1939 di Ceko. Tahun itu merupakan saat-saat yang sangat menyakitkan bagi rakyat Ceko yang tengah menghadapi pendudukan tentara Nazi Jerman. Dengan semangat perayaan HUT kemerdekaan Republik Ceko, pada 28 Oktober, sejumlah mahasiswa Fakultas Kesehatan Universitas Charles Praha menggelar aksi demonstrasi menentang pendudukan Nazi. Aksi ini terus berlanjut, hingga akhirnya, pada tanggal 11 November, Jan Opletal, salah satu pentolan demonstran tewas tertembak di bagian perut.

Pada tanggal 15 November, tak disangka, prosesi pemakaman Jan Opletal dibanjiri ribuan mahasiswa, yang kemudian sontak memanfatkan rombongan mereka untuk menggelar demonstrasi anti-Nazi. Gerakan inilah yang membuat Nazi berang dan mengambil tindakan menutup semua perguruan tinggi di Ceko. Selain itu, tercatat 1200 mahasiswa ditangkap dan dijebloskan ke kamp konsentrasi, serta sembilan orang mahasiswa beserta profesor dieksekusi mati tanpa proses peradilan pada tanggal 17 November. Inilah salah satu alasan tanggal tersebut diabadikan sebagai Hari Mahasiswa Internasional, yang untuk pertama kali diperingati oleh Dewan Mahasiswa Internasional di London pada tahun 1941. Tradisi ini kemudian terus dilanjutkan oleh penggantinya, Serikat Mahasiswa Internasional, yang dengan dukungan Serikat Nasional Mahasiswa di Eropa dan sejumah organisasi lainnya mendesak PBB untuk mencatatkan secara resmi Hari Mahasiswa Internasional dalam kalender mereka.

Catatan lain menyebutkan, 17 November (1973) juga merupakan puncak perlawanan mahasiswa Yunani terhadap junta militer yang berkuasa saat itu. Sebelumnya (14 November), setelah menggelar demonstrasi, mahasiswa Politeknik Atena membangun barikade pertahanan di kampusnya, dan dengan memanfaatkan perlengkapan seadanya yang mereka temukan di laboratorium, mereka membangun stasiun radio dan memancarkan siaran pro-demokrasi. Buah dari propaganda radio itu adalah bergabungnya ribuan mahasiswa dalam barisan mereka. Saat itulah, tanggal 17 November, 30 tank AMX pemerintah menyerbu kampus, merobohkan gerbang, dan  mengobrak-abrik mahasiswa. Sayangnya, masih terjadi simpang-siur terkait dengan jumlah korban jiwa. Namun yang pasti, banyak dari mahasiswa yang mengalami luka dan meninggalkan bekas secara permanen (disarikan dari wikipedia.com).

  1. Perkembangan Krisis Umum Imperialisme


Gelombang krisis terus menghantam dunia, tak terkecuali negeri-negeri imperialis. Krisis yang berawal dari macetnya kredit perumahan kelas rendah (subprime mortgage) di Amerika (Serikat) pada penghujung 2007 tersebut, telah mencatatkan angka gagal bayar yang mencapai US$ 7 miliar atau hampir setara dengan anggaran belanja RI (Rp.854,7 triliun). Hancurnya perekonomian Amerika sebagai induk imperialis ditandai oleh bangkrut dan meruginya perusahaan-perusahaan raksasa miliknya, seperti General Motors, Merill Linch, Citigroup, Bear Stearus, HSBC, dan lain sebagainya. Hingga tahun 2008 saja, kerugian dari krisis ini menurut perkiraan ADB sudah mencapai US$50 triliun atau setara dengan 200 kali PDB Indonesia (Brosur Propaganda AGRA, 2010)

Setelah Amerika, hari ini negeri-negeri Eropa tengah ketar-ketir menghentikan dampak krisis yang semakin meluas. Pada akhir Februari lalu, Yunani menjadi negeri pertama yang diacak-acak krisis. Inggris, Perancis, dan seluruh negeri Eropa kemudian juga mengalami nasib serupa, yang selanjutnya mengambil sejumlah langkah penanggulangan, yakni dengan memberikan dana talangan (bailout) kepada perusahaan-perusaah swasta mereka, memangkas subsidi publik dan gaji pegawai, serta menambah waktu usia pensiun. Hal inilah yang menyulut kemarahan warga Eropa, terutama klas pekerja.

Sebagai contoh, beberapa waktu yang lalu (23/9), Serikat Pekerja Perancis menggelar aksi mogok yang terkonsentrasi di 232 titik di seluruh negeri. Massa aksi mogok ini diperkirakan berjumlah 2,5 juta orang, lebih besar dari aksi serupa  sebelumnya (7/9) yang berjumlah 1,1 juta orang (Kompas, 24/9). Aksi lebih besar terjadi pada 29 Oktober lalu, yakni di Belgia, Yunani, Spanyol, dan Irlandia. Ini merupakan aksi yang terkoordinasi, yang menghimpun para pekerja dari 30 negara Eropa. Titik utama aksi ini adalah di Brussels, Belgia, dengan massa aksi diperkirakan mencapai 100.000 ribu orang (Kompas, 30/9).

  1. Persoalan Umum Pemuda-Mahasiswa di Dunia


Hari ini, sebagai imbas dari krisis global yang terus menggurita, mahasiswa di seluruh belahan dunia mengalami nasib serupa, yakni melonjaknya biaya kuliah akibat pemotongan subsidi, sempitnya lapangan pekerjaan akibat bangkrutnya perusahaan-perusahaan nasional maupun multi-nasional, serta semakin dikekangnya kebebasan berekspresi, terutama berserikat.

Selain itu juga banyak pemuda berumur 15-25 tahun, hampir 759 juta sebagai penyandang buta huruf. Menurut laporan Unicef adapun 10 negara teratas yang warganya masih menyadang buta huruf. Yakni pertama India (270 juta jiwa), China (70 juta jiwa), Bangladesh (49 juta jiwa), Pakistan (47 juta jiwa), Ethiopia (27 juta jiwa), Nigeria (23 juta jiwa), Mesir (17 juta jiwa), Brazil (14 juta jiwa), Indonesia (13 juta jiwa) dan Maroko (10 juta jiwa). Serta pemuda yang masih menyandang buta huruf lebih banyak berasal dari keluarga petani miskin, buruh tani dan buruh industri[5].

Sedangkan dari 212 juta pengangguran yang disebabkan krisis keuangan global, terdapat ¼ atau 53 juta pemuda yang menjadi pengangguran. Hal ini lebih dipengaruh oleh faktor  runtuhnya perekonomia di sebagain besar negara berkembang dan juga banyaknya PHK yang terjadi secara missal diseluruh dunia. Dampak dari pengangguran yang meningkat drastis ini, menyebabkan tingkat kemiskinan pun menggelembung hingga 2,2 milyar penduduk di seluruh dunia menderita kelaparan dan kemiskinan akut[6].

Keterkungkungan dari belenggu buta huruf dan pengangguran merupakan persoalan tersendiri bagi pemuda-mahasiswa di seluruh dunia. Dua persoalan tersebut menjadi, permasalahan yang cukup akut karena dua hal tersebut akan menimbulkan dampak sosial bagi diseluruh dunia. Seperti meningkatnya kemiskninan, kriminalitas dan kelaparan akan menjadi efek domino akibat dua tersebut menghinggapi di sektor pemuda di diseluruh dunia. Peran pemuda-mahasiswa untuk ikut melakukan pembangunan ekonomi, sosial dan budaya di seluruh budaya pun menjadi dikerdilkan akibat minimnya akses publik seperti pendidikan dan lapangan pekerjaan yang layak bagi pemuda.

Minimnya akses publik dan pengangguran-buta huruf bagi pemuda-mahasiswa tentunya salah satu pencerabutan hak dari pemuda-mahasiswa. Kondisi yang dihadapi oleh pemuda di seluruh dunia, tak lain disebabkan oleh terkaman krisis dalam tubuh imperialisme yang dihadapi oleh pemuda mahasiswa diseluruh dunia sebagai korban utama dari keganasan yang diberikan oleh imperialisme.

Selain itu, peranan dari rezim boneka dalam negeri yang berkuasa di berbagai negara di belahan dunia, juga memiliki andil dalam proses penindasaan yang didapatkan oleh pemuda-mahasiswa. Bentuk peranan yang dapat dilihat adalah minimnya rezim boneka untuk menyediakan lapangan kerja, dan memberikan perhatian khusus pada penyelenggaraan pendidikan seperti menyediakan sarana dan prasarana serta anggaran yang memadai dan mendukung peningkatan akses pendidikan serta kualitas dari output dari pendidikan.

 

  1. Persoalan Umum Mahasiswa di Indonesia


Ketidakadilan dan penindasan yang dilakukan oleh rakusnya imperialisme juga dirasakan oleh pemuda-mahasiswa di Indonesia Praktik liberalisasi di sektor pendidikan meruapakan salah satu contoh penindasan yang dirasakan oleh pemuda-mahasiswa untuk mengakses pendidikan. Hal ini ditandai dengan, melonjaknya biaya kuliah baik dalam bentuk SPP, biaya pratikum dan suumbangan pendidikan seperti (BOP, BOPP, IOMA dsbnya) yanga merupakan akibat dikuranginya subsidi, semakin buramnya gambaran masa depan sebagai dampak dari menyempitnya lapangan pekerjaan, serta menguatnya represivitas terhadap kebebasan berserikat, merupkan sejumlah persoalan pokok yang semakin menghawatirkan.

Berikut data sumbangan masuk bagi mahasiswa baru (S1) dibeberapa perguruan tinggi negeri

Tabel biaya sumbangan uang masuk di beberapa Universitas Negeri di Indonesia































































noNama UniversitasNama SumbanganBesar Sumbangan
1Universitas Jenderal Soedirman (Purwokerto)BOPP2,5 juta – 200 juta
2Universitas Padjajaran (Bandung) 5 juta - 75 juta
3Universitas Indonesia (Jakarta)DPP5 juta – 75 juta
4Univerisitas Gajah Mada (Yogyakarta)BOP5 juta - 160 juta
5Institut Teknologi Bandung (Bandung)SDPA14 juta - 175 juta
6Universitas Negeri Padang 2,5 juta – 15 juta
7Universitas Negeri Malang (Malang) 4,5 juta – 25 juta
8Universitas Brawijaya (Malang) 5 juta – 75 juta
    

 

Dari besaran biaya sumbangan masuk bagi mahasiswa memang hanya bisa dirasakan oleh rakyat lapisan menengah ke atas. Sedangkan bagi rakyat lapisan bawah, seperti petani miskin, buruh tani, dan buruh jasa maupun buruh industri hanya mampu bermimpi saja. Hal yang perlu ditekankan disini, adalah praktek komersialisasi dalam bentuk tingginya besar biaya pendidikan harus diangkat untuk dijadikan bahan propaganda dan target kampanye massa. Hal ini  dikarenakan dengan tingginya biaya pendidikan di perguruan tinggi negeri merugikan seluruh lapisan masyarakat Indonesia khsusunya yang paling dirugikan keluarga dari kaum tani maupun kelas buruh yang sangat kecil kemungkinan dapat membiayai anak-anaknya untuk lanjut ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi khususnya perguruan tinggi.

Privatisasi berkedok otonomisasi telah menyebabkan banyak Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang kehilangan haknya untuk secara penuh mendapatkan pendanaan dari pemerintah. Hari ini, angka subsidi pemerintah untuk PTN hanya berkisar dari 15-60 persen. Sebagai contoh, Institut Teknologi Bandung (ITB) hanya mendapatkan 185 miliar, jauh di bawah kebutuhannya tahun ini yang mencapai Rp.700 miliar. Universitas Indonesia (UI) yang membutuhkan dana 1,4 triliun, hanya disubsidi Rp.300 miliar oleh pemerintah (Kompas, 3/5). Sementara itu Universitas Sumatra Utara (USU) hanya mendapatkan Rp.209 miliar, padahal yang diperlukan adalah Rp.533 miliar (Kompas, 4/5).

Konsekuensi dari kebijakan yang dibungkus dengan label Badan Hukum Milik Negara (BHMN), Badan Layanan Umum (BLU), dan lain sebagainya, ini adalah semakin mahalnya biaya kuliah, mengingat mahasiswa dianggap sebagai sumber pemasukan dana yang mudah dan cepat, daripada menjalin kerjasama dengan korporasi (yang sedang dihantam krisis global) atau menjual riset pada mereka. Hari ini, PTN berlomba-lomba untuk menarik setinggi-tingginya mahasiswa baru dari jalur seleksi mandiri, yang harganya beberapa kali lipat dari biaya regular dan biaya masuknya saja bisa mencapai ratusan juta rupiah.

Sebagai contoh, Universitas Gajah Mada (UGM) menerima 7.145 mahasiswa baru pada tahun 2010, namun hanya 11 persen saja kuota untuk jalur SNMPTN. Universitas Negeri Semarang (UNS) yang menerima 4.859 mahasiswa baru, hanya 1.345 mahasiswa baru dari jalur SNMPTN. Kemudian Universitas Diponegoro (Undip) hanya menerima 1.619 mahasiswa baru dari jalur SNMPT dari total 8.305 mahasiswa baru tahun ini (Kompas, 3/5). Sementara cara lain yang umum dilakukan, yakni membangun unit usaha mandiri (hotel, pusat perbelanjaan, gedung pertemuan, dll.) justru semakin nyata mencitrakan komersialisasi di dunia pendidikan tinggi.

Sebagai akibat dari melambungnya harga pendidikan ini adalah pupusnya harapan rakyat miskin, seperti buruh, buruh tani, dan kaum miskin kota, untuk mengirim anak-anak mereka ke bangku kuliah. Data menyebutkan, pada tahun akademik 2007/2008, hanya 17,25 % angka partisipasi kasar (APK) jenjang PT dari total masyarakat usia kuliah. Mahalnya biaya ini jugalah yang mengakibatkan meningkatnya angka putus kuliah (DO). Pada tahun akademik 2008/2009, angka DO mencapai 7,81 persen, pada 2004/2005 bertambah menjadi 7,94 persen, pada 2005 melonjak hingga 12,86 persen, pada 2006/2007 turun sedikit menjadi 12,54 persen, dan pada 2007/2008 meningkat drastis menjadi 18,57 persen (Kompas, 3/5).

Sebagaimana dinyatakan teori, kapitalis/imperialis akan selalu melebarkan kekuasaannya sebagai cerminan dari watak ekspansif. Sudah sejak lama, tercatat sejak masuknya kongsi-kongsi dagang Eropa ke tanah air (abad ke-17), Indonesia menjadi primadona yang menjadi rebutan karena dianggap sangat ideal untuk memenuhi hasrat imperialis akan sumberdaya alam yang melimpah, buruh murah yang melimpah, dan pasar yang luas. Sejak saat itu, otomatis rakyat Indonesia mengalami kesengsaraan. Pada akhirnya, kmiskinan kemudian menjadi identitas yang sulit lepas dari bangsa Indonesia—hingga hari ini.

Kemiskinan merupakan buah dari penguasaan alat produksi yang timpang. Di tangan pemerintahan boneka, Indonesia telah habis digadai secara murah-meriah kepada imperalis. Kebijakan Soeharto yang menerbitkan UU Penanaman Modal Asing (PMA) No 1 tahun 1966, sebagai jalan untuk masuknya megakorporasi asing, seperti Freeport, Newmont, Shell, dan lain-lain, masih terus dilanjutkan oleh para penerusnya. Sebagai gambaran, dalam sepuluh tahun terakhir, 82 persen dari total investasi di Indonesia merupakan bentuk Penanaman Modal Asing (PMA) (Kompas, 6/7).

Besarnya angka investasi asing tersebut tidak berbanding lurus dengan kesempatan kerja masyarakat. Data pemerintah menyebutkan bahwa tahun ini, angka pengangguran mencapai 8,59 juta orang (BPS, Maret). Sementara itu angka pengangguran terdidik terus menunjukan peningkatan. Pada tahun 2005, penganggur lulusan D3 mencapai 322.836 orang, kemudian meningkat menjadi 486.000 orang pada 2009. Pada tahun 2005, angka penganggur lulusan S1 mencapai 385.418, dan melonjak menjadi 626.000 orang pada 2009 (Kemennakertrans, 2010). Bagaimanapun, angka pengangguran akan terus dijaga oleh imperislis sebagai cadangan buruh murah, yang suatu waktu bisa direkrut saat buruh yang dia kuasai bangkit melawan bersama serikatnya.

Selain masalah pengangguran, persoalan lain adalah bahwa lapangan kerja yang tersedia merupakan industri manufaktur yang berkarakter padat karya, sehingga otomatis tidak memerlukan pekerja berpendidikan tinggi. Inilah bencana bagi mahasiswa Indonesia, karena pemerintah gagal menyediakan lapangan pekerjaan yang bisa menjadi media aplikasi ilmu pengetahuan yang didapat di bangku kuliah. Atas dasar ini, pemerintah kemudian menggalakan gerakan “kewirausahaan”, yang memaksa para mahasiswa untuk mencari dan membuka lapangan pekerjaannya sendiri. Sebagai gamabaran, tahun ini, dari 116 juta orang angkatan kerja, 107,4 juta orang bekerja, dan sekitar 73,6 juta orang (68,6 persen) berada di sektor informal (BPS, Februari). Persoalnnya adalah, sangat mustahil kewirausahaan yang dibangun mahasiswa bisa berkembang besar dan mampu bersaing melawan monopoli perusahaan-perusahaan multinasional (MNCs) milik imperialis. Realita yang dapat dilihat adalah usaha mikro atau setara dengan PKL, membuka ruko kecil dan sejenis mendominasi dari usaha yang dapat dikembangkan di Indonesia dengan jumlah hampir 51 juta atau 98,8% (Kompas, 14/7). Dengan begitu, kita dapat menyimpulkan dan menilai bahwa memasukan program kewirausahaan bagi mahasiswa merupakan hal yang sangat-sangat kecil kemungkinan untuk berkembang dan dapat memenuhi kebutuhan primer, kesehatan dan pendidikan untuk kehidupan yang dijalaninya. Program kewirausahaan juga merupakan salah satu bentuk “ímpotensi” dari rezim boneka saat ini untuk dapat menyediakan lapangan pekerjaan yang layak bagi rakyatnya. Tugas dan kewajiban tersebut dilimpahkan ke rakyat untuk berusaha sendiri menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Tentunya dengan keterbatasan modal dan penguasaan alat produksi, program kewirausahaan di perguruan tinggi untuk mendorong mahasiswa kreatif hanya menjadi isapan jempol semata.

Selain itu, persoalaan yang dihadapi oleh pemuda Indonesia adalah minimnya akses pemuda Indonesia untuk mengembangkan kebudayaan dan peradaban bangsa Indonesia. Dengan minimnya akses pendidikan hingga jenjang pendidikan tinggi, yang dirasakan oleh rakyat. Tentu memberikan minimnya kesempatan dan peluang bagi pemuda untuk memajukan kebudayaan dan peradaban melalui ilmu pengetahuan yang digunakan untuk diabdikan kepada rakya. Akan tetapi, pemuda hanya dijadikan sapi perah khsususnya tenaganya saja yang banyak dipekerjakan sebagai buruh-buruh murah tanpa adanya jaminan untuk dapat hidup layak dan mendapatkan kesejahteraan.

Masalah represivitas terhadap gerakan mahsiswa merupakan persoalan klasik di negeri ini. Walaupun sudah mendapatkan jaminan dalam UUD 45 pasal 28E, kebebasan berserikat dan berekspresi terus semakin dibatasi. Dengan menginduk pada regulasi NKK/BKK tahun 1979 warisan Soeharto, pemerintah dan birokrat kampus hari ini menggunakan berbagai cara untuk menjauhkan mahasiswa dari peran politiknya. Langkah yang umum diambil oleh birokrat kampus adalah memperbanyak bebaban akademik, membatasi gerak mahasiswa lewat pemberlakuan “jam malam”, menjatuhkan sanksi akademik, dari mulai skorsing hingga pemberhentian, bahkan lebih jauh lagi menggunakan cara-cara kekerasan.



Peran dan Tanggung Jawab Pemuda-Mahasiswa dalam Perjuangan Demokrtis Nasional

Dari pemaparan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh pemuda-mahasiswa di Indonesia untuk turut serta dalam perjuangan menuntut hak-hak demokratis. Pemuda-mahasiswa Indonesia dengan semangat sumpah pemuda dan international student day kita harus mengorganisasikan diri dan menggerakan dalam rangka memblejeti kebijakan rezim boneka SBY-Boediono dan menuntut pemenuhan hak-hak demokratisnya. Selain itu, pemuda-mahasiswa yang merupakan bagian dari rakyat Indonesia yang tertindas harus integrasi dengan perjuangan rakyat Indonesia seperto kaum tani dan kelas buruh. Disinilah sinkronisasi gerakan demokratis nasional akan terbangun untuk menghancurkan imperialisme pimpinan AS, feodalisme dan kapitalis birokrasi serta rezim boneka dalam negeri yaitu SBY-Boediono yang merupakan musuh utama rakyat tertindas dalam negeri.

Selain itu, pemuda-mahasiswa dengan segenap kemampuan yang sudah dikekang ruang gerak oleh rezim boneka harus dapat memaksimalkan potensi yang ada untuk mengabdiikan tenaga dan pikirannya untuk mendukung perjuangan rakyat tertindas. Hal ini merupakan peran dan tanggung jawab kita sebagai pemuda mahasiswa yang memiliki perspektif demokratis nasional untuk tetap konsisten dalam perjuangan menuntu hak-hak demokratis.





Salam Demokrasi!

Jakarta, 8 Oktober 2010







* L. Muh. Hasan Harry Sandy A. M. E. (Sekjen FMN Pusat)





[1] Ketika itu, pemerintah kolonial Belanda menerapkan kebijakan Poltik Etis yang memberikan kesempatan kepada kalangan pribumi—terutama kalangang priyayi—untuk mengenyam bangku sekolah termasuk perguruan tinggi. Hal ini ditujukan untuk mendapatkan tenaga administrative yang akan mengisi pos-pos pemerintahan kolonial




[2] Fase ini dikenal dengan fase kabangkitan nasional atau pergerakkan nasional, karena tumbuh dan berkembangnya kesardaran meluas dari masyarakat Indonesia untuk menjadi bangsa yang merdeka dan maraknya pergerakkan politik di mana-mana melawan kolonial Belanda




[3] H.Colijn “Koloniale vraagstukken van heden en morgen”, hlm. 25-26




[4] Taman Djaja “Pusaka Indonesia”, hlm. 347-353




[5] EFA Global Monitoring Reports : Progrees Toward Education For All Goals, 2010, Unicef, Hal 94-95.




[6] EFA Global Monitoring Reports :Progrees Toward Education For All Goals, 2010, hal 82-83.


0 komentar:

Poskan Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © 2012 Berkawan untuk MelawanTemplate by : UrangkuraiPowered by Blogger.Please upgrade to a Modern Browser.