Translate

Not-
Found
Tampilkan postingan dengan label YANG MELAWAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label YANG MELAWAN. Tampilkan semua postingan

Bagian Dua: "Lahirnya Tragedi"

Oleh Asep Pram


Lahirnya Tragedi


Di tengah hiruk-pikuk dan berseliwerannya orang-orang yang keluar masuk rumah sakit, perempuan itu bergegas menuju ke sebuah ruangan di samping kanan toilet. Sepuluh menit kemudian keluar mengenakan seragam putih putih. Ia seorang perawat.

Setelah menggesekkan selembar kartu, ia pergi ke beberapa ruangan. Mencatat sesuatu di dalam buku yang telah disediakan, kemudian berkeliling memasuki ruangan lain. Mengecek setiap data kemajuan pasien. Di sana biasa ia mendapat pesan atau perintah dokter yang paling akhir memeriksa si pasien yang ditujukan kepada perawat-perawat semacam dirinya.

“Selamat siang, Bu!” sapanya dengan ramah kepada seorang pasien perempuan yang tengah terbaring sambil bercakap-cakap dengan seseorang, mungkin familinya yang sedang membesuk.

Tiba-tiba suara sirine mobil ambulan berbunyi mendekat, kemudian berhenti. Perempuan itu bergegas pergi. Bunyi serine terdengar lagi disusul satu detik kemudian.

Di halaman depan rumah sakit sudah berbaris empat mobil ambulan. Orang-orang sibuk membuka pintu belakangnya, menyiapkan tandu, kemudian mengangkat sosok tubuh yang penuh darah segar yang  mengucur di antara lukanya yang menganga. Rintihnya menyayat, pilu.

Ada kecelakaan. Bis bermuatan penuh masuk ke jurang sedalam lima belas meter setelah sebelumnya bertabrakan dengan truk bermuatan pasir. Korbannya banyak. Sepuluh meninggal dunia, termasuk sopir, sisanya luka berat dan ringan, lima lagi terjepit badan bis, hingga kini belum bisa diangkat. Kondekturnya hilang entah ke mana, kemungkinan besar terperosok ke bawah semak-semak karena terpental. Polisi masih sibuk menyusuri tempat kejadian perkara.

Seluruh korban kecelakaan dirawat di rumah sakit tempat perempuan itu bekerja. Semuanya berjumlah dua puluh lima orang. Yang meninggal dimasukkan ke ruang jenazah untuk diotopsi, sedangkan korban luka-luka masuk ke unit-unit pemeriksaan tertentu. Ada yang masuk ke unit gawat darurat, ada juga yang hanya dirawat dalam ruang perawatan biasa. Tergantung seberapa parah luka yang dideritanya.

Perempuan perawat itu bernama Magda. Magdalena, lengkapnya. Bergegas ia melaksanakan perintahan seniornya. Cekatan. Matanya bergerak-gerak lincah, tapi tidak sampai mengubah aura wajahnya yang sayu, sendu. Matanya bening, tajam, lincah, dan bercahaya.

Di Ruang Gawat Darurat, seorang korban tergeletak sendirian. Cepat-cepat ia memanggil dokter jaga. Saku belakang celana korban ia rogoh. Sebuah dompet kini sudah di tangannya.

“Ramadhan Revolusi,” gumamnya. Sebuah nama yang unik, pikirnya.

“Siapa?”

“Ramadhan Revolusi”

“Hmm...” si dokter tidak berkomentar lagi. “Banyak sekali darah yang keluar dari perutnya. Lukanya lebar. Apa Suster melihat tanda-tanda benda yang melukai perut pasien ini? Mungkin saja ada serpihan kaca bis atau yang lainnya?” tanya dokter.

“Tidak, Dok. Sejak saya masuk dan memeriksa luka korban, tidak melihat benda apa pun di perutnya. Apa mungkin patahan besi kursi  penumpang yang ada dihadapannya?”

“Tidak mungkin” jawab dokter pasti. “Itu luka yang diakibatkan oleh benda tipis dan tajam, semacam pisau. Segera bersihkan. Lukanya harus segera kita jahit.”

Sementara si dokter menyiapkan jarum suntik berisi cairan, Suster Magda sibuk membersihkan luka pasien. Di atas pusar, tepat ditengah perutnya, sebuah luka memanjang dan dalam. Ketika ia membersihkan sedikit bercak darah pada leher pasien, Suster Magda kaget. Ia merasa pernah bertemu dengan laki-laki ini. Tapi dimana dan kapan, ia tak ingat.

“Siapkan air!” pinta dokter. Suster Magdalena tak mendengar apa-apa. Pikirannya masih kesusahan mengingat-ingat tempat dan waktu pertemuan dengan laki-laki yang kini ada di hadapannya, menjadi pasiennya.

“Suster! Anda kenapa? Sakit?”

“Oh maaf, Dok. Saya sedang mengingat-ingat sesuatu ... eh ... anu rasanya saya pernah bertemu dengan pasien ini, tapi lupa.”

“Nanti saja mengingat-ingatnya. Tugas kita sekarang harus menyelamatkan nyawanya. Lukanya berbahaya. Sangat dalam.”

Dokter mulai bekerja menjahit luka pasien. Tangannya yang dibalut sarung tangan karet warna putih, sangat cekatan menusukkan kemudian menarik jarum dan benang pada luka si pasien. Matanya seperti tidak berkedip mengikuti gerakan benda-benda yang ada di tangannya.

“Gunting kecil,” pintanya pada Suster Magdalena. “Kok tidak pakai sarung karet, tidak steril itu. Lekas pakai dulu!” katanya kesal.

Suster Magdalena gugup. Hampir saja ia juga lupa tempat menyimpan sarung tangan karet itu. Satu jam kurang lima belas menit, luka pasien selesai dijahit.

“Sebaiknya, Suster jangan kemana-mana. Pasien ini kritis. Ia harus selalu dijaga dan dirawat. Sekarang, silahkan ingat-ingat kembali dimana Suster Magda bertemu dengannya, tapi jangan sampai ketiduran,” ucap dokter. Wajah Suster Magdalena merah, tapi tetap tersenyum.

Dokter kemudian meninggalkan ruangan. Suster Magdalena kembali mengawasi wajah pasien yang ada di hadapannya. Menyidik-nyidik. “Kasihan sekali. Apa ia tak punya keluarga?” gumamnya.

Tiba-tiba pintu ada yang mengetuk. Ia mendekati pintu yang tertutup rapat. Kemudian membukanya. Dua orang polisi berpangkat brigadir sudah ada di hadapannya.

“Selamat siang!” ucap salah seorang polisi itu.

“Siang. Silahkan masuk, Pak!”

“Sudah Suster data nama pasien ini?”

“Di kartu tanda penduduknya tertulis nama Ramadhan Revolusi. Di belakangnya tertulis nama ayahnya. Alamat di kartu itu tidak begitu jelas.”

“Berarti betul ini,” kata salah seorang polisi sambil memandang rekannya.

“Ada apa, Pak?” tanya suster Magdalena heran.

“Di TKP banyak sekali barang-barang milik para korban bis naas itu. Semuanya sudah ada yang mengambil, yang tersisa cuma tas gendong ukuran sedang berwarna hijau dipadu hitam dan sebilah belati tanpa sarung. Kemungkinan milik korban ini. Dugaan kami mendekati betul, sebab di buku-buku dalam tas itu terdapat tulisan ‘revolusi’. Kebetulan sama dengan nama pasien ini. untuk sementara barang-barang itu sekarang disimpan dalam,” seorang polisi menjelaskan. Sementara polisi yang lain sibuk mencatat data korban sesuai dengan apa yang tertulis dalam kartu tanda penduduk. “Kalau nanti ada pihak keluarga korban yang datang, tolong beritahu saya di depan.”

Magdalena kembali mengingat-ingat laki-laki itu. “Polisi itu mengatakan belati tak bersarung,” ucapnya perlahan. Tiba-tiba seolah menemukan jawaban.  Beberapa hari yang lalu, ketika ia sedang menunggu toko milik orangtuanya, pernah kedatangan laki-laki muda yang menanyakan belati. Matanya, rambutnya yang gondrong, kaos hitamnya, dan tas yang digendongnya. Dialah laki-laki yang terbaring tak berdaya itu. Dia pula yang telah membuat dirinya terkagum-kagum akan kebebasan sikapnya, bicaranya yang berat dan pendek-pendek, matanya yang tajam menusuk serta wajahnya yang beku. “Ya, dialah orangnya!” katanya.

“Suster Magda, ada telepon,” sebua suara terdengar. Magdalena kaget. Lekas ia pergi, supaya dapat cepat kembali memandang laki-laki yang tengah terbaring itu.

Dua orang polisi yang tadi menemuinya di ruang periksa, terlihat sedang serius membicarakan sesuatu dengan polisi yang pangkatnya lebih tinggi. Magdalena yang sedang menerima telepon, melirikkan matanya ke arah kedua polisi itu sambil sesekali  memandang orang-orang yang hilir mudik. Mereka mungkin keluarga-keluarga korban kecelakaan bis itu. Banyak di antara mereka, terutama ibu-ibu, yang menangis.

Apa yang diobrolkan polisi-polisi itu sangat jelas terdengar oleh Magdalena sebab tempat telepon itu ada di ruang tunggu tempat polisi-polisi itu mengobrol. Magdalena tertarik pada apa yang sedang dibicarakan mereka yang menyebut-nyebut “Revolusi”, nama laki-laki yang kini tengah menggangu pikiranya.

Dari pembicaraan para polisi itu diketahui buku-buku yang ada dalam tas laki-laki itu adalah buku-buku kiri yang kini sedang ramai di-sweeping sebagai tindak lanjut digalakannya Gerakan Anti-Komunis. Katanya menyangkut bahaya laten yang lebih berbahaya yang harus segera dibasmi.

Betulkah buku-buku dalam tas laki-laki itu adalah buku kiri? Lantas, kenapa buku-buku itu dilarang dan dibakar?, pikirnya.

Tidak intelek. Tidak menghargai hasil karya orang lain. Jangan-jangan akibat dari tidak literatnya masyarakat negeri ini sehingga kurangnya apresiasi dan penghargaan terhadap karya tulis. Magdalena terus berpikir.

Ada sesuatu menyelusup, seolah menyuruhnya untuk melakukan sesuatu. Ia harus menolong laki-laki itu. Ada perasaan tidak tega jika laki-laki itu ditangkap setelah sembuh dari lukanya nanti. Apalagi kalau sampai laki-laki itu ditahan.

Terbersit pikiran untuk mengambil barang-barang miliknya yang ada dalam mobil. Ia akan menyimpannya di suatu tempat yang tak akan diketahui orang lain. Entah kenapa, ia sangat ketakutan kalau barang-barang dalam itu akan menjadi bukti yang dapat membahayakan keselamatan si pemuda.

Magdalena segera menuju ke tempat parkir mobil. Ia mencoba mendekati salah satu mobil yang paling ujung. Secara kebetulan, matanya melihat tali hitam yang terjepit antara kedua pintu belakang mobil ambulan yang ketiga dari mobil yang ada di dekatnya.

“Itu seperti tali tas?” gumamnya. Cepat-cepat ia menghampiri mobil itu, dan tanpa berpikir panjang, ia langsung membuka pintunya yang kebetulan tidak dikunci. Si sopir tidak nampak.

Warna tas tersebut sesuai dengan apa yang diceritakan kedua polisi tadi: hijau berpadu hitam. Sebilah belati dengan gagang hitam tergeletak di sampingnya. Penuh darah mengering. Ia lalu memasukkan belati itu ke dalam tas yang berisi buku. Setelah menutup kembali pintu mobil, perempuan itu lenyap.

Sementara itu, matahari sudah mulai jingga. Gurat-gurat sinarnya terlihat menggaris di celah-celah awan yang menggumpal. Untuk sementara, tas tersebut akan ia titipkan ke pemilik kantin rumah sakit, kemudian ia minta sopir ayahnya untuk membawanya ke rumah. “Tolong bawa tas ini, simpan di ruang perpustakaan. Kasihan, punya teman,” katanya pada si sopir.

Mobil melaju. Di jalan pusat kota, ia saling sikut dengan mobil lainnya. Rebutan jalan. Jumlah kendaraan sekarang hampir sama dengan jumlah penduduk negeri ini. Semua orang ingin punya mobil. Katanya, agar sampai ke tempat kerja tidak lagi terlambat. Padahal, dengan membeli mobil, ia malah menambah macet jalanan. Belum lagi polusi suara dan udara.

Rumah dan pekarangan siapa lagi sekarang yang harus dibongkar untuk dibangun jalan dan jembatan layang.  Apakah harus si miskin lagi yang terus kena sial? Apakah harus selalu mereka yang jadi korban pembangunan, demi prestise, sebab negeri ini tidak mau dikatakan terbelakang. Begitulah kalau hanya mementingkan penampilan fisik semata, sementara yang lainnya dikesampingkan: rakyat tetap saja miskin, pendidikan makin mahal, pengangguran bertambah, anak jalanan di mana-mana, dan kriminalitas dominan.

Segalanya makin jelas dalam pikiran Magdalena bahwa laki-laki inilah yang dulu pernah bertemu dengannya itu, yang bertanya tentang toko yang menjual belati. Dulu, laki-laki ini mengatakan kalau dirinya seorang pemburu. Bahkan, belati yang dicarinya itu katanya untuk memburu binatang buas. Tiba-tiba ia berpikir: jangan-jangan luka pada perutnya itu diakibatkan oleh belati itu? Tapi kenapa sampai melukai perut? Bunuh diri? Magdalena tidak yakin kalau laki-laki itu bunuh diri. Ia kembali mengawasi wajah laki-laki itu.

“Sayang, ia belum juga sadar” gumamnya. “Coba kalau sudah sadar, aku akan bertanya, apa yang telah terjadi padanya? Apakah ia masih ingat kepadaku? Jangan-jangan ...”

Pintu ruang pasien diketuk. Belum sempat ia berdiri untuk membuka pintu, tiga orang polisi sudah berada di depan pintu. Kemudian masuk. “Selamat malam, Suster!” ucap salah seorang di antara mereka. Ketiga polisi itu saling tatap. Salah seorang, yang paling tua dan berpakaian preman, berbicara. “Kami telah menghubungi pihak keluarga korban, ke alamat yang tertulis di kartu tanda penduduk itu, tapi ternyata, pemilik rumahnya sudah berganti. Pemilik yang dulu, orangtua korban ini sudah pindah. Sayangnya, tidak ada yang tahu kemana pindahnya. Ada informasi yang kami dapat dari beberapa sumber yang menyebutkan bahwa pemilik rumah sudah lama cerai, tepatnya, si istri minta cerai...”

“Jadi, laki-laki ini ...” Magdalena memotong.

“Ya, sejak ia kuliah delapan tahun yang lalu, ibunya tidak pernah lagi datang ke rumahnya...”

“Ayahnya?” Magdalena kembali memotong.

“Ayahnya yang bernama Joenoes Soemalang telah lama menjadi penghuni penjara.“

“Memangnya, Joenoes Soemalang itu siapa, Pak? Penjahat?”

“Itulah yang sekarang sedang kami cari datanya di pusat sebab menurut informasi yang kami peroleh dari tetangganya, Joenoes Soemalang itu adalah tahanan politik. Dulunya orang merah, pengikut Tan Malaka. Karenanya kami sangat hati-hati menangani kasus pasien ini, sebab ternyata dalam tas milik korban  terdapat buku-buku kritis berhaluan kiri. Suster tahu sendiri, sekarang ini pemerintah sedang giat menggalakan gerakan sweeping buku-buku kiri. Jadi, maksud kami, setelah sadar dan lumayan sembuh, pasien ini akan kami minta keterangan tentang kepemilikan buku itu.”

Polisi dan petugas intelijen berpakaian preman itu kemudian berhenti bicara. Ia mendekat ke arah pasien yang tengah terbaring, lalu mengambil dompet si pasien. “Ini juga bagian dari barang bukti. Di sini, dalam kartu tanda penduduk yang sudah tidak berlaku ini, tertulis nama Ramadhan Revolusi yang cocok dengan nama dalam buku-buku itu. Dalam kartu ini juga tertulis nama Joenoes Soemalang, ayah korban, yang disebut-sebut sebagai tahanan politik.”

“Mungkin sekarang laki-laki itu sudah dibebaskan,” tanya Magdalena.

“Saat istrinya minta dicerai, Joenoes Soemalang masih berstatus sebagai tahanan. Entah ditahan di mana. Alasan kenapa si istri minta cerai juga karena sejak dua bulan setelah menikah, suaminya diciduk aparat dan ditahan, hingga ia minta ceraipun, suaminya masih belum bebas. Satu-satunya sumber informasi yang dapat dipercaya adalah si pasien ini, berikut data yang sedang kami cari dari pusat. Maaf Suster, kapan kira-kira pasien ini akan siuman?” si polisi mengalihkan pembicaran.

“Saya tidak bisa memastikan, sebab luka pasien sangat parah. Kulit perutnya terkoyak memanjang dan ada bekas benda tajam masuk lumayan dalam.”

“Apa yang Suster katakan betul. Luka di perut korban  diakibatkan oleh pisau belati itu. Menurut warga yang pertama kali menolong para korban, di perut laki-laki ini tertancap sebuah pisau belati.”

“Apakah ia bunuh diri?” Magdalena kaget.

“Sepertinya bukan. Belati itu menancap masih dalam keadaan dibungkus kertas koran. Kemungkinan besar, korban sengaja menyelipkan belati itu dibalik bajunya, tepat di bawah pusar. Ketika bis menabrak truk atau mungkin ketika sampai di dasar jurang, belati itu menusuknya. Kami juga ingin menanyakan, kenapa ia membawa-bawa belati ke dalam bis? Sebab bisa jadi akan digunakan untuk kejahatan. Menodong atau membunuh, misalnya.”

“Apa mungkin begitu?”

“Makanya, kami menunggu pasien sadar. Banyak hal yang akan kami tanyakan kepadanya.”

Percakapan berhenti. Seorang polisi berpakaian dinas masuk. Ia melaporkan bahwa barang bukti berupa tas dan pisau belati hilang.

“Apakah sudah dicari dengan betul?”

“Kami sudah mencarinya kemana-mana, bahkan di semua mobil dan seluruh tempat parkir, tapi tidak ditemukan!”

Magdalena terkejut. Ia khawatir ada orang yang melihat apa yang telah dilakukannya beberapa saat lalu. Namun karena takut dicurigai, ia bersikap biasa.

Mendengar laporan itu, si komandan polisi mohon pamit.

“Silahkan..!” jawab Magdalena pendek. Ia mampu menyembunyikan perasaannya. Kemudian pura-pura mengecek labu darah yang menggantung di samping kiri pasien yang memang sudah mulai habis. Dirabanya selang yang menghubungkan labu darah itu dengan tangan si pasien.

Komandan polisi itu keluar diikuti dua rekannya, sementara yang seorang berdiri tegak berjaga-jaga di depan pintu. Wajahnya diseram-seramkan.  Magdalena menyibukkan diri menenangkan ketakutannya sambil berpikir tentang  langkah yang harus ia lakukan selanjutnya.
*

Malam merayap perlahan. Jalanan pusat kota ramai oleh berbagai kendaraan yang hilir mudik. Orang-orang mulai pulang ke rumah. Pekerja kantoran, dengan kendaraan pribadinya, di antara sisa permasalahan dalam pekerjaannya, asyik membayangkan bagaimana istri dan anak tercinta akan menyambutnya. Pejabat dan pengusaha yang sukses, merayakan kemenangan proyeknya dengan mampir di diskotik sekedar untuk minum-minum dan menonton tubuh penari striptis yang lenggak-lenggok menantang. Sesekali ia “sodaqoh”-kan sedikit penghasilannya di sela-sela kutang dan payudara, atau di antara karet celana dalam dan kulit perut si penari yang merangsang.

Sementara itu, buruh pabrik berdesakkan dalam metromini. Yang laki-laki, bergelayutan di pintu sambil menghisap rokok murahan. Asapnya mengepul bercampur timah hitam dan karbon monoksida yang dikeluarkan kendaraan di depannya. Para perempuan sibuk mengelap keringat di wajah dan lehernya. Di dalam terasa panas sebab jumlah penumpang kelewat penuh. Ada juga yang terus-menerus menutup hidung karena tidak tahan oleh asap rokok.

Saat lampu merah menyala, kendaraan membentuk antrian memanjang. Para pedagang asongan dan pengamen sibuk mengais keuntungan dari belaskasihan para penumpang yang di hatinya masih tersimpan nurani.

Magdalena tetap setia di rumah sakit. Ia merasa beruntung piket malam ini, karena bisa lebih lama menjaga pasien istimewanya. Ia sendiri tidak tahu, apa yang telah terjadi pada dirinya. Ia tidak berani mengatakan itu sebagai cinta. Sebab  cinta tak sesederhana itu, pikirnya.

Ia ingin segera melihat si pasien sadar. Ia ingin bertanya tentang banyak hal kepadanya. Tentang belati, Joenoes Soemalang yang katanya tahanan politik, tentang keberadaan ibunya, juga tentang buku-buku yang dibawanya. “Aku siap menjaga dan merawatmu hingga sembuh. Lukamu parah. Kondisimu sangat kritis. Ini bukan semata-mata karena kewajibanku sebagai perawat, tetapi atas nama kemanusiaan,” katanya perlahan, mencari-cari alasan pada diri sendiri. Magdalena menghabiskan malamnya bersama riuh rendah perasaan dan pikiran kepada laki-laki yang masih terbaring.

“Tolong jaga dan rawat dia baik-baik. Awas jangan sampai lengah!” ia berpesan pada perawat lainnya yang disambut dengan tawa dan curiga.

“Kenapa? Naksir, ya?” tanya perawat lain.

“Bukan hanya aku, polisi juga berminat!” keduanya tertawa.
*

Tiba di rumah, Magdalena setengah berlari menuju ruang perpustakaan tempat buku-buku miliknya berada. Kebanyakan berupa komik. Ia ingin segera membuka isi tas laki-laki itu. Ia penasaran tentang buku-buku kiri yang sedang diburu aparat.

Satu-satu buku yang ada di dalam tas itu di keluarkan. “Pemikiran Karl Marx; Nyanyi Sunyi Seorang Bisu; Rumah Kaca; Arus Balik; Art And Revolution (writings on literature, politics, and culture); Madilog; In Defense of Marxism; The Communist Manifesto; Lenin’s Final fight (speech and writing) ...” ia menyebutkan judul buku itu satu-satu.

Ada lebih dari dua belas buku. Ia lalu membukanya satu-satu. Ada nama “revolusi” dengan huruf kecil semua. Di bawahnya terdapat angka tanggal, bulan, dan tahun. Mungkin tanggal pembelian. Lalu ada tandatangan. Tulisan tersebut terdapat di halaman pertama setelah cover. Masih pada halaman yang sama, dalam beberapa buku terdapat tulisan tangan. Misalnya: “fight imperialism”, “ganyang orba”, “Tan Malaka: bapak dari pemikiran dan sikap saya”...

Sebagai mantan mahasiswi, Magdalena tahu sedikit mengenai wacana politik semisal paham marxisme dan komunisme. Ia juga tahu siapa itu Karl Marx, Lenin, dan Tan Malaka, meski hanya sepintas. Sebagaimana rakyat negeri ini pada umumnya, dalam pikiran Magdalena, nama-nama tersebut mempunyai citra buruk.

Ketakutan-ketakutan pemerintah ditularkan kepada seluruh rakyatnya dengan membuatnya sebuah citraan yang maha buruk, jahat, anarkis, atheis, dan berbagai predikat buruk lainnya. Dengan kekuasaan yang dimilikinya, pemerintah telah memaksakan kebenaran menurut dirinya pribadi menjadi kebenaran umum, menjadi semacam dogma, aturan, bahkan hukum yang harus dipatuhi dan dijunjung tinggi. Hal semacam ini pasti berhasil sebab pemerintah mempunyai alat untuk berkuasa. Dengan alasan menjaga keamanan, ketertiban, dan keutuhan  negara, ia mempunyai hak untuk berbuat sesuatu, meskipun cara yang ditempuh tidak selamanya benar. Terbentuklah warga negara yang taat dan sadar hukum, padahal sebenarnya adalah warga negara yang penurut, penakut, selalu keder, minder, bahkan bodoh. Mereka tidak sadar kalau itu semua pemaksaan yang halus dan tersembunyi.

“Benar-benar orang komunis,” gumam Magdalena perlahan. “Pantas pemerintah menindak tegas tokoh komunis sampai ke anak-cucunya. Melarangnya masuk pegawai negeri, sekolah, dan berbagai fasilitas negara lainnya, sebab mereka ternyata mampu ber-regenerasi. Joenoes Soemalang, ayahnya, seorang komunis sehingga kata tetangganya menjadi tahanan politik seumur hidup. Anaknya tak jauh beda.”

Dalam tumpukan buku paling bawah, ia menemukan lembaran kertas dibungkus plastik rapi. Ia membukanya. “Cerpen....? Ia juga menulis cerpen? Ia seorang penulis. Pantas gayanya begitu, seperti pemikir.”

Di tas bagian depan, ia menemukan handuk dan peralatan mandi berikut kaos oblong warna hitam dan celana jeans belel, masing-masing satu potong. Ketika pakaian itu diangkat, di dalamnya terdapat empat buah disket, ballpoint dan lima hingga sepuluh lembar kertas berisi tulisan tangan. Dari tulisannya Magdalena tahu kalau laki-laki itu sering menulis. Karena penasaran, Magdalena membacanya.

Laki-laki dan Belati (sebuah cerita)” ia membacakan judul tulisan tersebut. Pada sepertiga terakhir tulisan, mata Magdalena terlihat basah. Ia menangis. Baginya, cerita tersebut sangat menyentuh hati hingga ia larut ikut sedih.

Ada yang mengherankan pada tulisan itu, pikirnya. Kenapa peristiwa kecelakaan yang terjadi persis seperti yang terjadi pada pasiennya. Bis yang ditumpangi laki-laki dalam cerita itu masuk jurang setelah sebelumnya bertabrakan dengan truk bermuatan pasir. Namun, dalam cerita itu si tokoh laki-lakinya mati tertusuk belati. “Betul, betul sekali,” katanya. Ia yakin bahwa laki-laki yang kini terbaring ini pernah bertemu dengannya beberapa waktu lalu. Ia semakin yakin karena dalam cerita itu juga diceritakan bahwa laki-laki itu keluar masuk toko untuk mencari belati. Ada percakapan antara laki-laki itu dengan perempuan muda penjaga toko, yang setelah diingat-ingat  adalah dirinya.

“Ya. Itulah aku,” katanya. “Kata-kata yang diucapkan perempuan muda dalam cerita itu adalah kata-kata yang kuucapkan kepadanya, dan toko pramuka yang ditunjukannya itu adalah toko mili Engko Beng Seng. Magdalena semakin tersihir oleh laki-laki itu.

Seharian ia membaca cerpen-cerpen itu yang tidak dapat diselesaikan semalam. Wajah laki-laki itu semakin kuat mendesaknya untuk terus diingat. Cerita dalam tulisan-tulisannya begitu menarik perhatianya, membuatnya seolah ingin mengetahui seluk-beluk laki-laki itu. Membaca cerpen-cerpennya, Magdalena seakan membaca otobiografi laki-laki itu: ayahnya, ibunya, masa lalunya, perasaannya, lingkungannya, pikirannya, cita-citanya, dan segala apapun tentang dirinya.

Sehari itu, sudah empat kali Magdalena menanyakan kabar si pasien kepada temannya sesama perawat.  Dari temannya tersebut ia tahu si pasien  masih dalam keadaan kritis, belum sadarkan diri. Polisi masih sibuk mengusut barang bukti yang hilang

“Menurut kabar yang aku terima, ia akan jadi tersangka...”

“Tersangka apa?” ia khawatir.

“Tersangka kiri...”

Percakapan lewat telepon itu benar-benar telah membuat Magdalena semakin khawatir. Dulu ia memang merasa jijik dan berprasangka buruk terhadap paham komunisme, tapi sekarang setelah mengenal laki-laki itu, ia tertarik untuk mempelajarinya, membaca buku-bukunya yang kebetulan ada. Apalagi setelah pemerintah menggembar-gemborkan Gerakan Anti-Komunisme, bahaya laten, dan pembakaran buku-buku berhaluan kiri, paham itu semakin naik daun. Dengan meraba-raba, Magdalena mulai membaca buku-buku tersebut. Sendiri.
*

Hingga tiga hari kemudian, polisi tidak berhasil melacak orang yang mengambil barang bukti itu. Pada hari ke tujuh, si pasien baru sadar. Magdalena sangat gembira.

Ingin rasanya ia membujuk polisi itu untuk keluar, tapi terpaksa diurungkan sebab polisi-polisi tersebut akan menaruh curiga. Magdalena terpaksa harus memendam dalam-dalam segala keinginannya itu, demi keselamatan hingga dua hari kemudian ia mendapatkan pasien tidak ada di kamar. Dari beberapa teman ia tahu, setelah kesehatannya pulih, polisi langsung membawanya.

Dari dokter yang merawatnya ia mendapat kabar bahwa si pasien mengidap amnesia akibat benturan keras pada kepala.  “Namanya sendiri saja ia tidak tahu,” dokter menjelaskan. “Pihak kepolisian punya kepentingan untuk mengetahui perihal kepemilikan buku-buku kiri dan belati yang dibawanya.”

“Bagaimana polisi mau bertanya tentang buku-buku itu, diri sendiri saja ia tidak tahu?” Magdalena sewot.

“Entahlah! Mungkin mereka mencegah supaya laki-laki itu tidak melarikan diri.”

“Apa boleh menahan orang yang sedang lupa ingatan?“ Magdalena kembali bertanya. “Bukankah menahan seseorang itu harus jelas dulu kesalahannya melalui proses pengadilan?”

“Pihak kepolisian sudah kehilangan barang bukti. Kalau laki-laki tersangka itu kabur, mereka akan kehilangan kedua-duanya.”

“Laki-laki itu lupa ingatan, Dok. Semua tentang masa lalunya tidak bisa ia ingat. Segalanya!”

“Tapi,” jawab dokter perlahan, “apakah karena ia lupa ingatan lantas ketakutannya untuk dijatuhi hukuman penjara juga lantas hilang? Meskipun ia lupa ingatan, ketika diinterogasi dan diancam hukuman penjara, tetap saja ia tidak mau. Ia akan takut. Nah, karena takut dan tidak mau dihukum penjara, ia akan berusaha agar tidak dipenjara. Kemungkinan, salah satu caranya ialah melarikan diri alias kabur?”

“Status penahanannya apa?”

“Mungkin tahanan sementara sampai barang bukti berhasil ditemukan dan amnesia-nya sembuh serta diputuskan melalui proses pengadilan, atau ada kebijakan lain.
*

Sementara itu di markas kepolisian, laki-laki korban kecelakaan yang divonis amnesia sedang digiring ke tempat pemeriksaan. Ia akan diinterogasi.

“Sekali lagi saya bertanya, betul tidak Saudara yang bernama Ramadhan Revolusi?” tanya polisi yang ada di hadapannya. Yang ditanya malah mengerutkan dahi. Sama sekali ia tidak tahu siapa namanya, siapa dirinya, bagaimana masa lalunya. Siapa Ramadhan Revolusi itu? Nama siapa? Apa betul itu namanya?

“Saudara mendengar apa yang saya tanyakan?”

“Ya,” jawabnya.

“Kenapa tidak saudara jawab. Betul atau tidak?”

Tidak ada jawaban.

“Jangan pura-pura tidak tahu? Ingat, Saudara jangan bermain-main dengan hukum. Saudara jangan membohongi aparat penegak hukum!” petugas terlihat kesal. Namun pertanyaan apapun yang ia ajukan selalu dijawab dengan diam.

“Baik, kalau begitu. Saudara akan pergi kemana sehingga menumpang bis naas itu?"

Laki-laki itu kembali mengerutkan dahinya.  Kelihatannya ia sedang berpikir keras mengingatnya agar dapat menjawab pertanyaan. Namun, tak ada yang dapat diingat. Ia masih tetap diam.

“Coba buka baju!” perintah polisi itu. Laki-laki tersangka itu berdiri. Dengan tidak berpikir panjang, ia lalu membuka baju. Memandang ke arah polisi yang ada di hadapannya.

“Lihat!” kata polisi itu berdiri sambil menunjuk ke arah bekas luka pada perut laki-laki itu. Ia terus memperhatikan reaksi yang akan muncul setelah tersangka melihat bekas luka pada perutnya.

Si tersangka memang menyidik-nyidik  bekas luka pada perutnya, merabanya, mengusap-usapnya. Namun, setelah lebih dari sepuluh menit, si polisi kecewa, sebab tidak memperlihatkan reaksi yang ia harapkan. Laki-laki itu malah memandangnya seolah bertanya, bekas luka apa ini?

“Itu adalah bekas luka yang diakibatkan oleh pisau belati. Nah, apakah Saudara ingat pisau belati itu? Pisau belati yang telah menancap, melukai perut Saudara. Itulah buktinya. Bekas luka memanjang di perutmu!”

Kenyataan yang terjadi pada laki-laki itu seolah-olah telah menjadi sesuatu yang tidak dapat diubah. Meskipun telah mendatangkan psikiater, laki-laki itu tetap tidak mampu membuka tabir penghalang ingatannya. Ia divonis positif mengidap amnesia. Dugaan mengenai kesalahan yang ditujukan kepadanya tidak dapat dibuktikan di pengadilan. Ditambah lagi oleh raibnya barang bukti. Ia dibebaskan. Kasusnya ditutup.
*

Sejak laki-laki itu digiring ke kantor polisi, hati Magdalena selalu mengkhawatirkannya. Khawatir laki-laki itu disiksa karena ia tidak mau mengaku sebab tidak mampu mengingat apapun. Khawatir polisi membuat bukti dan keterangan palsu tentang kesalahannya dalam kepemilikan buku kiri, karena polisi takut disangka tidak mendukung pemerintah dalam menyukseskan Gerakan Anti-Komunis sehingga laki-laki itu diadili dan diputuskan sebagai antek komunis lalu ditahan.

Magdalena semakin cemas. Ia khawatir kalau laki-laki itu hidup terlunta-lunta karena orangtuanya tidak mengetahui keadaannya, ditambah lagi dengan kondisi pikirannya yang lupa ingatan. Keinginannya untuk mencari laki-laki itu pun harus dibatalkan, karena ia takut polisi akan mencurigainya. Tidak hanya itu, bagaimana kalau polisi juga membuntutinya, mengetahui rumahnya, dan mengetahui kalau buku-buku dan belati yang sedang dicari pihak kepolisian, ternyata ada di dalam rumahnya.

Keinginannya untuk lebih jauh mengetahui laki-laki korban kecelakaan mantan pasiennya itu, hanya ada dalam rencana. Semuanya harus ditunda untuk dipikirkan lagi. Menunda bukan berarti pasrah begitu saja, tapi menunda sebagai strategi untuk kembali menyusun rencana. Seperti pelari yang berhenti sejenak untuk menghirup udara dan mengumpulkan tenaga supaya bisa berlari lebih cepat lagi.

Yang pasti dan dapat dilakukan oleh Magdalena saat ini adalah menyusun perkiraan mengenai laki-laki itu dari beberapa cerita yang ditulisnya, serta dari beberapa buku yang dimiliki. Buku yang kini ada pada dirinya. Hanya dengan cara itulah Magdalena mencurahkan kerinduannya pada laki-laki itu. Laki-laki yang bernama Ramadhan Revolusi.
*

Joenoes Soemalang, ayah laki-laki itu telah diketahui identitasnya. Informasi yang didapat dari data pusat kepolisian dan intelijen negara membenarkan adanya pengikut Tan Malaka kemudian menjadi tahanan politik bernama Joenoes Soemalang. Ia adalah tokoh komunis yang pernah beberapa kali dipenjara, termasuk pernah dibuang ke Pulau Buru pada tahun 1969. Tahun 1977, ia dipulangkan dari Buru pada pembebasan gelombang pertama, kemudian ditangkap lagi beberapa bulan kemudian. ***
bersambung...

Bagian Tiga "Pertemuan"

sebelumnya...

Bagian Satu "Laki-laki dan Belati"

Biodata Penulis:

 Asep Pram, lahir di Cianjur, 20 November 1979. Semasa kuliah aktif di Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS), Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Belajar menulis beberapa genre sastra seperti puisi, cerita pendek, dan novel. Beberapa cerita pendek dan puisinya pernah dipublikasikan di beberapa media massa cetak di Bandung dan di buku antologi bersama.

Novel pertama yang pernah ditulisnya berjudul Yang Melawan (2004), dipublikasikan secara stensilan dan dibahas dalam diskusi mingguan di ASAS. Novel keduanya berjudul Vademikum (2005), dijadikan sebagai mahar pada pernikahannya.

Menyelesaikan studi tentang kebijakan pada Magister Studi Kebijakan, Universitas Gadjah Mada pada tahun 2011.

Posted by
Unknown

More

Bagian Satu: "Laki-laki dan Belati"

Oleh Asep Pram



Laki-laki dan Belati


(Sebuah Cerita)


Seorang laki-laki berjalan perlahan. Matanya menatap kosong tanah yang akan dilaluinya. Sesekali ditendangnya kerikil seperti ingin melampiaskan amarah. Wajahnya sebeku salju, hampir tak ada jejak bahagia.

Di depan sebuah toko, ia berhenti tanpa sedikit pun mengangkat wajah. Ia hapal jalan itu, juga deretan toko-toko itu. Namun ia tidak tahu barang apa saja yang diperjualbelikan. Hanya terdorong oleh keinginannya untuk berhenti, maka ia pun berhenti.

Ia baru mengangkat wajah setelah merasa ada seseorang di hadapannya. Mungkin penjaga toko, pikirnya.

“Ada belati?” ia mulai bertanya.

Yang ditanya tampak mengulum senyum. “Oh maaf, kami hanya menjual obat-obatan. Ini apotik!”. Si penjaga toko jadi bertanya-tanya dalam hati: apakah laki-laki ini tidak bisa baca? Hmm... di negeri yang sudah lebih dari setengah abad merdeka, masih ada rakyatnya yang belum bisa membaca.

Merasa ditertawakan, laki-laki itu segera beranjak. Sedikit pun ia tak mempedulikannya. Jangankan ketololan, penderitaan orang lain pun, bagi rakyat negeri ini merupakan bahan tertawaan, pikirnya. Jika harus tersinggung, sejak dulu seharusnya orang-orang yang hidupnya menderita itu melampiaskan ketersinggungannya, tapi mereka tak melakukannya.

Laki-laki itu kembali masuk ke sebuah toko. Ia berharap barang yang dicarinya ada di tempat ini.

Dengan ‘senyuman selamat datang’, perempuan muda penjaga toko mempersilahkan masuk.

“Ada pisau belati?”

“Tidak ada,” perempuan itu menjawab  pendek. Sepertinya ia masih ingin melanjutkan pembicaraan, tapi ada sesuatu yang membuat dirinya tak mampu berkata-kata. Ia menyukai mata laki-laki itu. Dari caranya memandang seolah ada bola api yang menyembur dari kelopak matanya dan membakar apapun yang dilihatnya. Dalam satu wajah, ada sorot mata yang tajam dan garis muka yang beku. Sebuah perpaduan yang menarik, pikirnya.

“Anda pemburu?” setelah berhasil mengumpulkan tenaga, perempuan muda itu memulai pembicaraan. Ia begitu berhati-hati seolah tidak ingin membuat tersinggung orang yang diajak bicara.

“Begitulah...” laki-laki itu menjawab. Ia berharap perempuan muda di sampingnya segera menimpali. Tapi ternyata tidak. “Saya sedang bersiap-siap memburu binatang paling buas”.

Sekilas ia melihat perubahan air muka perempuan itu. Seperti senang karena perkiraannya tepat, sekaligus khawatir karena ia sedang berhadapan dengan laki-laki pemburu. Paling tidak, pikirnya, orang yang berburu sama buasnya dengan binatang buruannya. Terbayang olehnya sekelompok binatang buas sedang mencabik-cabik mangsa dengan gigi geriginya yang tajam.

“Harimau, macan tutul, singa...?” ia mengira-ngira.

Laki-laki itu menggeleng. “Lembu jantan yang renta.”

Perempuan muda penjaga toko mengerutkan kening. Apa orang ini sungguh-sungguh, pikirnya. Ia ternyata hanya memburu seekor lembu. Lembu yang renta pula.

Seolah mengerti pada apa yang sedang dipikirkan si penjaga toko, laki-laki itu menjelaskan bahwa semua binatang di jaman seperti sekarang ini sewaktu-waktu bisa berubah menjadi buas. Itu terjadi karena mereka merasa hidupnya sudah terancam: anak-anak mereka terancam, dan tempat tinggal mereka juga terancam.

“Siapa yang membuatnya terancam?” tanya perempuan itu.

“Peradaban.”

“Peradaban?”

“Ya!”

“Binatang memiliki peradaban?”

“Tentu”

“Peradaban apa?”

“Peradaban binatang”

Menurutnya, segala yang ada, tumbuh, dan berkembang dalam kehidupan binatang adalah peradaban binatang.

*


Sepagi ini orang-orang sudah bergegas. Kendaraan mengantri di pintu tol menunggu selembar tiket untuk kemudian melesat hendak menyaingi kilat. Sepeda motor sibuk menyalip: baginya jarak sejengkal jari adalah kesempatan yang akan melapangkan pintu uang, karenanya tidak boleh disia-siakan.

Seorang bocah pengamen memaki-maki pengendara motor karena pantatnya tersenggol ekor si kuda Jepang. Kantung plastik tempat ia mengumpulkan uang, lepas dari genggaman. Tujuh koin terserak di aspal. Tubuh ringkihnya  membungkuk, bersiap untuk memungut kembali uang hasil ngamen sejak pukul lima pagi. Namun malang, sebelum tangannya berhasil memunguti koin, tubuhnya terguling, kemudian tersungkur di tepi trotoar. Sebuah sepeda motor menabraknya. Pengemudinya berlari menuju pos polisis untuk menghindari pukulan massa. Ia mengaku tidak melihat si bocah, karena begitu terburu-buru dan ditunggu majikannya di kantor.

Laki-laki dengan wajah beku kembali menyusuri jalan kota, tapi tidak tergesa-gesa seperti para pemburu waktu. Ia bahkan seperti ingin menikmati jengkal demi jengkal langkahnya. Ia tidak sedang mencari apa-apa. Ia hanya mencari pisau belati.

Di depan sebuah kedai kopi ia menepi. Dipesannya segelas kopi hitam. Sebuah rutinitas ini seolah menjadi takdir yang harus dijalaninya setiap pagi: segelas kopi, dan beberapa batang rokok jika ada. Inilah kebiasaan yang diwariskan ayahnya. Ia pun percaya petuah sang ayah bahwa kebiasaan itu cukup untuk menahan lapar seharian. Bukan sebuah pilihan ideologis, melainkan sebuah strategi survival agar hidup tetap melaju.

Dengan ujung mata, ia memperhatikan cara penjaga kedai menyiapkan pesanannnya. Ia tidak berniat ingin tahu caranya menuang kopi, tapi masa lalu telah mengajarkannya untuk selalu curiga. Selalu ada lahar panas di balik bisunya gunung, lebih-lebih yang nyata seperti gelombang laut: selalu menyediakan ancaman. Di balik manisnya senyum tidak hanya da sederet gigi, tapi ada peranti untuk menyusun strategi dan bersiasat.

Setelah sejenak mengira-ngira, ia menyimpulkan bahwa si penjaga kedai bukanlah ancaman. Ia pun mengajaknya bercakap-cakap menunggu kopi surut di gelas. Topik obrolan bermacam-macam: selalu beralih ke lain topik sebelum yang sedang dibahas sampai pada tuntas. Mulai dari kelakuan petugas Satpol PP yang kerap menggertak atau numpang minum kopi dan minta gratis hingga masalah asal-usul keluarga. Satu yang tidak mungkin terlupakan: belati:

“Untuk apa?” pemilik kedai terheran-heran. Ketika kebanyakan orang berebut mencari uang, mengapa ia susah payah mencari belati, pikirnya. Ditatapnya laki-laki itu. “Sepertinya benda itu sangat penting buat Anda?”

“Betul...”

“Untuk apa?” pemilik kedai menghentikan pekerjaannya. Ia duduk di samping laki-laki itu, mendekat. Sebuah rencana pembunuhan terbayang di benaknya.

“Kenapa Bapak begitu ingin tahu?”

“Karena saya bisa membantumu mendapatkan benda itu. Jadi, sebelumnya saya harus tahu untk apa Anda begitu ingin mendapatkan benda itu...”

Menurut laki-laki itu, ia bukannya tidak ingin bercerita, tapi tidak sanggup untuk mengingatnya. Mengingat sebuah kesakitan, bukan hanya menaburkan garam pada luka, tapi juga seperti membuat luka baru di tempat yang baru.

“Bicaralah, Cuma beberapa menit. Tak akan seberapa sakit ketimbang harus terus memendamnya bertahun-tahun,” penjaga kedai meyakinkan.

“Saya jatuh cinta pada seorang gadis. Gadis itu pun mencintai saya. Kami sepakat untuk menikah di tanggal kelahirannya, di tahun yang telah kami sepakati. Di tahun yang menurut kami tepat, di mana saat itu kami sudah sama-sama siap. Namun di tengah usaha kami menyiapkan segalanya, ayah perempuan itu memisahkan kami begitu saja. Terlalu lama menunggu, katanya. Seorang laki-laki telah dipersiapkan untuk gadis itu. Ya, sebuah kisah cinta Siti Nurbaya diulang untuk ke sekian kalinya. Selian itu, ayahnya juga kalau aku...”

“Lanjutkan...” penjaga kedai tidak sabar.

“Ia tahu kalau aku anak seorang PKI...”

Penjaga kedai berkali-kali menganggukkan kepala.

“Itulah puncak dari rasa sakit yang kualami hanya karena ayahku aktivis PKI. Sejak itu aku menyimpan dendam...”

“Lalu, belati itu....” pemilik kedai menebak-nebak.

“Ya. Hanya dengan belati itu dendam ini akan tuntas. Tidak ada cara lain.”

“Benarkah? Tidak adakah yang lebih baik dari itu?”

“Maafkan... Aku sudah tidak percaya pada kebaikan. Sudah tidak ada harganya.”

Penjaga kedai menarik nafas dalam-dalam kemudian melepaskannya seperti ingin melepaskan beban di dadanya. “Masih ada waktu untuk berpikir. Pikirkanlah sekali lagi...” katanya menasehati.

*


Inilah belati itu. Keping baja yang dibakar. Dibentuk sedemikian rupa. Ada nama perempuan itu: LARASATI. Kepada benda inilah ia menitipkan sesuatu: dendam yang sudah memerah. Sama sekali ia tidak ragu. Hanya dengan cara inilah segalanya akan berakhir.

Seperti biasa, malam tetap hitam. Langit tetap seperti itu, seperti halaman tak terhingga yang menawarkan ruang kepada anak-anak untuk bermain. Ada bintang yang dapat berkedip dan menawarkan lima sisi untuk dipilih. Katanya untuk anak laki-laki belajar melompat dari satu sisi ke sisi lainnya sebab hidup mengharuskannya demikian, mengimbangi bumi yang terlampau lincah berputar. Bulan juga tetap bulat, sesekali mempercantik diri dengan pantulan cahaya. Katanya untuk anak perempuan belajar berbedak.

Betapa kagetnya ia, orang yang baru saja keluar dan kini berada dekat dari tempat persembunyiannya itu adalah kekasih yang dicintainya. Seribu degup menghentak jantungnya. Genggamannya perlahan mengendor. “Kenapa ada di sini?” ia mengumpat dalam hati.

Laki-laki berwajah beku itu merasa iba setelah melihat keadaan kekasihnya. Ia tahu kalau kekasihnya itu sangat mencintai- nya. Seperti dirinya, perempuan itu pun sama-sama mengalah. Mengorbankan cintanya demi hormat dan bahagianya orangtua.

Pergulatan kembali terjadi dalam otaknya. Ia berpikir keras memilih kembali keputusan: melampiaskan dendam atau mengalah total tanpa berkutik menerima segala luka. “Kalau orangtuanya mati dibunuh, ia akan semakin bersedih, sebab telah kehilangan dua orang yang dicintainya: orangtuanya dan diriku,” pikirnya. Lalu, bagaimana dengan dendamnya? Cinta dan keinginan agar hidup perempuan yang dicintainya bahagia, telah membuat dirinya harus kembali mengulur ujung simpul: ia harus membakar segala dendam.

ia memutuskan untuk tidak membunuh orangtua kekasihnya. Ia ingin orangtua kekasihnya itu bahagia dengan calon manantu pilihannya sendiri. “Biarlah luka ini kumamah sendiri. Berbahagialah, kalian!”

Namun, ketika melangkah hendak pergi, ia baru sadar, di samping kanan dari tempatnya sembunyi terdapat sebuah panggung kecil yang belum selesai didirikan. Dalam hati ia bertanya-tanya, untuk apa panggung itu dibuat. Pertanyaan kemudian terjawab setelah ia melihat dua buah tiang bambu dengan hiasan indah janur di ujungnya. “Sebuah tanda kepemilikan laki-laki atas perempuan, seperti srigala jantan yang menandai wilayah kekuasaannya dengan air seni sendiri. Pernikahan...  mungkinkah ia menikah hari ini? Kenapa aku tidak diundang?”

Sumbu mesiu kembali terbakar. Pijarnya memendar mencipta kilatan-kilatan amarah. Laki-laki itu belum sepenuhnya mampu menerima segala yang terjadi. Luka kembali disayat perih. Tapi kini, laki-laki calon suami kekasihnya itu yang menjadi sasaran, sebab ia tahu: laki-laki itu telah mengungkap sisi nista jati dirinya sebagai anak seorang PKI di hadapan orangtua perempuan itu sehingga tak lagi merestuinya.

“Anjing! Kubunuh laki-laki itu dengan belati ini. Ya, dialah yang telah membuat semuanya tak karuan. Dialah yang sebetulnya tidak punya perasaan itu. Bersiaplah. Aku akan datang, bukan untuk mengucap selamat. Aku akan datang untuk menancapkan belati ini di tubuhmu!” suaranya terdengar gemetar.

Ia kembali mengawasi wajah kekasihnya. Perempuan itu duduk di teras rumah, tampak sedang bersedih dan gelisah. Tak lama ia berdiri, berjalan perlahan ke sana ke mari. Tiba-tiba matanya mendongak ke atas, ke langit malam yang berawan kelabu. Seperti ingin memandang sesuatu.

Pintalan ingatan akan masa lalu berloncatan. “Kasihan engkau, kekasihku. Aku tahu, engkau pasti ingin melihat bulan dan bintang yang sering kita tatap dulu. Namun sayang, seperti kita saat ini, mereka tidak akan bersinar lagi. Mereka sedang berduka. Lihatlah, langit hitam memendam badai, petaka sebentar lagi tiba memupus lukisan harapan yang kita gambar di atas tanah kemarau. Sebenarnya, aku tidak tega melihat engkau bersedih. Aku tidak ingin mengakhiri semua ini. Aku setuju dengan ajakanmu untuk pergi ke sebuah kampung, menikah di sana, membangun rumah kecil dan hidup sederhana, tapi aku tidak ingin menjadi penyebab retaknya hubunganmu dengan orangtua. Tak akan kita dapati ketentraman jika keinginan itu tetap kita paksakan tanpa restu orangtua. Aku akan terus mencintaimu, meski  engkau tak sepenuhnya kumiliki. Tegarlah wahai kekasih, cobalah terima ini semua tanpa beban. Aku tidak kuat melihat air matamu itu,” ia membalikkan muka karena melihat perempuan yang dicintainya mengusap sepasang matanya yang basah, rebah, dan pasrah.

Dengan mata basahnya, perempuan itu masih tetap memandang langit malam. Benar. Ia ingin melihat bulan dan bintang. Ia ingin menitipkan kabar untuk laki-laki yang dicintainya. “Keluarlah kalian, bulan dan bintang. Sampaikan pada laki-laki kekasihku, ... aku minta ia datang malam ini juga sebelum subuh tiba. Aku akan memberitahukan tentang pernikahan yang tidak kuinginkan ini. Aku…akan menikah….besok.” Tangis tak henti mengalir seperti gerimis panjang. “Kehadiranmu sekarang sangat berarti bagiku, … sangat berarti. Ini adalah malam penghabisan aku merindukanmu, detik terakhir  perasaan cintaku terhadapmu. Subuh besok, aku mulai berdandan menjadi pengantin. Mulai subuh besok pula aku akan berusaha menerima laki-laki pilihan orangtuaku itu. Aku harus bisa menerimanya, sebab bagaimana pun, ia adalah suamiku. Aku harus berusaha melayani dan berbakti kepadanya, mendukungnya dari belakang, menjadi tempat berlabuh, menjadi penenang dikala gundah meresah, menjadi istri yang jujur dan tulus. Bukankah itu perkataanmu tentang kewajiban istri terhadap suami? Aku akan menjalankan semua perkataanmu itu pada laki-laki yang menjadi suamiku, meskipun laki-laki itu bukan dirimu. Datanglah ke sini malam ini juga. Hapuskan kesakitan dan dendam itu, sebab kamu sendiri yang memintaku untuk dapat menerima segala, yang pahit sekalipun. Datanglah… dimana kamu malam ini? Ingatkah kamu kepadaku malam ini. Kalau tidak bisa datang, tolong dengarlah segala gundah ini, dengarlah…!” Dalam hatinya, ia ingin sekali laki-laki yang dicintainya datang malam itu. Ia tidak tahu kalau laki-laki yang ia maksud berada sangat dekat dari tempatnya memohon.

Kini perempuan itu menutup muka dan mulutnya dengan tangan berlapis ujung gaun tidurnya. Ia tidak ingin ada orang yang tahu dan mendengar tangisnya. Ia tidak ingin mengecewakan orangtuanya. Sebagai perempuan, dirinya tidak dapat berontak terhadap kenyataan ini dan mangakui bahwa ini semua adalah kesewenang-wenangan dan pemaksaan. Ia ingin sekali menolaknya, tapi yang ia hadapi adalah orangtuanya sendiri, yang telah membesarkannya, mendidiknya, menyekolahkannya hingga seperti saat itu.

Reruntuhan budaya feodalistik yang karatan dan tradisional masih tetap dipertahankan di zaman sekarang ini, pikirnya. Kenapa anak harus selalu menghormati orangtua, sedangkan orangtua bisa sewenang-wenang kepada anaknya tanpa memperdulikan perasaan, pendapat,  dan keinginannya untuk dihargai. Ada kekuasaan apa yang memberikan wewenang penuh orangtua kepada anaknya? Kenapa jika seorang anak menolaknya selalu dihadapkan pada sebuah dosa. Mahluk semacam apakah dosa hingga membuat seseorang mati kutu jika berhadapan denganya? Benarkah dosa itu ada? Atau jangan-jangan hanya sebuah akal-akalan salah satu pihak yang ketakutan.

Melihat perempuan yang dicintainya bersedih, laki-laki itu ingin sekali menghampiri dan mendekapnya erat, membiarkan kepalanya rebah terbenam di dadanya hingga basah berurai air mata. Ia ingin membiarkan perempuan itu mendengar sendiri degup jantungnya, cintanya, sebab cinta tidak hanya butuh kata-kata dan tindakan, tapi juga kepercayaan dan keyakinan. Namun ia sadar bahwa keinginanya itu akan menjadikan segalanya tambah menyakitkan. “Biarlah ia terbiasa tanpa kehadiranku sebab janur kuning calon suaminya telah menghias rumahnya”. Meskipun ia sendiri tidak sepakat dengan pengkultusan janur sebagai simbol sebuah kepemilikan laki-laki atas perempuan. “Aku do’akan engkau bahagia bersamanya, wahai kekasihku. Ingat kembali pesanku tentang keharusan istri terhadap suami. Ingatkan juga suamimu jika ia tidak sesuai dengan keharusan suami tehadap istri, begitulah. Aku turut bahagia jika engkau bahagia, tapi aku sangat menderita jika engkau bersedih. Realisasi cinta tidak selamanya dengan saling memiliki secara fisik, tapi juga perasaan. Cinta di hatilah yang kini kita miliki, maka kenanglah aku wahai kekasih, sebelum engkau menjadi istri laki-laki pilihan orangtuamu itu. Berbaktilah engkau kepada siapapun laki-laki yang menjadi suamimu, jangan kecewakan ia. Sebelum melihatmu menikah, aku akan tetap tinggal di kota ini. Pernikahan itu adalah hari bahagiamu, sambutlah ia dengan senyuman… senyumlah. Kepergianku tak akan menyisakan sesal bila telah melihat engkau tersenyum,” ia terus bergumam.  Hanya hati. Hanya dalam hati.

Keduanya masih tetap di tempatnya masing-masing hingga adzan subuh tiba. Beberapa orang terlihat menuju mesjid. Mereka bersarung dan berkopiah, berusaha menyisihkan waktu tidurnya untuk mengingat Tuhan sebab di antara mereka masih percaya, hanya Tuhan yang wajib disembah dan dituruti, bukan penguasa.

Sebelum pernikahan perempuan yang dicintainya berlangsung, ia menetap di kota itu. Ia sangat terbiasa dengan gaya hidup bohemian. Tidur, baginya bukan masalah. Ia yakin bahwa esensi tidur adalah menghentikan aktivitas kesadaran, membiarkannya istirahat. Memejamkan mata, berbaring, terlentang, kasur, bantal, dan guling adalah sebuah kemanjaan.

Dengan wajah yang sudah jauh berbeda dari dulu sebelum peristiwa pemutusan paksa oleh orangtua perempuan itu, ia tidak akan dikenali oleh siapapun, termasuk oleh perempuan yang dicintainya. Ia selalu berada di jarak yang cukup untuk mengawasi rumah perempuan itu. Ia hanya ingin melihat perempuan itu tersenyum bahagia ketika pernikahan berlangsung. Itu saja cukup baginya untuk meyakinkan bahwa perempuan itu telah bisa menerima kenyataan sebagai seorang istri dari laki-laki yang tidak ia kehendaki.

Musik degung telah melantun dari pagi. Ia kembali tersayat luka. Alunan musik itu seolah memberitahu semua orang bahwa hari itu ada pesta, silahkan lihat dan saksikanlah, betapa cantik dan tampannya para pengantin. Lihatlah senyum bahagia mereka yang akan ber-rumahtangga. Tanyakan kepada mereka, berapa jumlah anak-anak lucu yang diinginkannya? Ayo, datanglah beramai-ramai. Makanlah sepuasnya hidangan disediakan, karena makanan itu wujud berbagi kebahagiaan dari mereka. Begitulah ia membayang maksud bunyi gamelan itu.

Seorang sinden menyanyikan tembang-tembang Sunda yang tak asing lagi bagi masayarakat sekitarnya: Karembong Kayas, Kalangkang, Es Lilin, Akang Haji, Incu Mitoha, dan sebagainya.  Perempuan sinden mengenakan kebaya warna merah muda dipadu kain selendang merah tua kotak-kotak, dan kain batik tulis warna cokelat melilit di pinggangnya hingga mata kaki.

Tamu undangan berdatangan mengenakan pakaian berbagai macam warna dan merk. Sebagian perempuan mengenakan Kebaya berikut kain songket dengan gelung di kepala. Laki-laki memakai bendo, lengkap dengan baju dan kain bawahannya.

Dari belokan terlihat rombongan pengantin laki-laki, memanjang. Ramai sekali. Pengantin laki-laki terlihat digandeng oleh beberapa orang yang sudah berumur, mungkin orangtuanya. Para pengantar berbaris di belakangnya. Seorang lengser dan beberapa perempuan pagar ayu menari-nari.

Ia menatap wajah pengantin laki-laki dengan ketenangan penuh. Kini ia dapat menerima segalanya. Ia menyaksikan dan mengikuti jalannya resepsi pernikahan dengan khidmat dari tempat yang agak jauh. Mulai dari ketok panto, seren-sumeren, walimahan, hingga sawer. Pada acara sawer ini ia melihat kedua pengantin duduk berdampingan dengan payung pengantin yang menahannya dari jatuhnya uang recehan dan bunga-bunga yang dilemparkan seseorang di antara jeda kawih sawer.

Setelah akad nikah selesai, kedua pasangan pengantin itu, diperbolehkan menerima ucapan selamat dari para tamu yang hadir. Tamu undangan biasanya dipersilahkan untuk mencicipi berbagai hidangan yang disediakan. Pada acara inilah ia baru dapat melihat pengantin perempuan dengan jelas. Matanya terus menatap, merindukan senyuman bahagia darinya. Apa yang ia harapkan terjadi. Perempuan pengantin yang dicintainya itu tersenyum kepada tamu perempuan pertama yang memberikan ucapan selamat kepadanya. Ketika kedua perempuan itu sedang berpelukan, mata pengantin perempuan itu tertuju kepadanya. Perempuan pengantin itu terdiam sejenak. Ia sangat hafal tatapan itu.

Menyadari dirinya sedang diperhatikan oleh pengantin perempuan, ia segera pergi. Ia berlalu setelah senyum kebahagiaan yang dirindukan dari perempuan yang dicintainya itu didapatkan.  Iia segera meninggalkan kota itu. Sambil menghisap rokok, ia memasuki bis yang akan membawanya pulang.

Dalam bis ia mulai menyusun beberapa rencana yang akan dilakukan selanjutnya. Setelah mempertimbangkan dengan matang untung rugi serta konsekunsinya, ia memutuskan untuk tidak bekerja apapun selain menulis. Ia sadar, keberadaannya sebagai anak seorang komunis, hingga saat ini masih terus dimarjinalkan. Ke mana pun lamaran pekerjan ditujukan, selalu terjegal oleh keberadaan bapaknya yang eks tapol, yang dipercaya menjadi bagian dari hantu-hantu komunis yang ditakuti, yang tidak layak hidup dan gentayangan bersama “kaum bersih”.  Menurutnya, hanya dengan menjadi penulislah ia dapat mengekspresikan kegelisahan dan keresahannya selama ini sebagai reaksi terhadap sistem sosial dan berbagai realitas kehidupan selama ini.

Menjadi manusia merdeka dan bebas yang ia inginkan. Ia tidak akan merasa terbebani oleh pekerjaan, tidak merasa terbatasi oleh berbagai aturan dan keharusan. Lewat menulis ia ingin mengabadikan segala penderitaan dan kesakitan yang pernah dialami orang-orang miskin, kaum yang tertindas, dan terpinggirkan dari kehidupan modern. Ia ingin mengabarkan segala penderitaan dan kesakitan yang ada di bumi ini kepada pembaca, agar semuanya menyadari bahwa ketertindasan, kesakitan, penderitaan, dikucilkan, dan dibuang, akan menggumpal melahirkan jentik-jentik dendam. Dendam yang makin lama makin bertambah, akan terus-menerus mendesak, memerlukan pelampiasan, yang salah satunya melalui perlawanan dan pemberontakan. Karena banyaknya kaum miskin yang disakiti dan dilukai, akan makin banyak juga cikal bakal dendam yang dibangun, yang kemudian tertata menjadi dendam kolektif. Dendam kolektif akan terus-menerus menuntut adanya pemenuhan yang juga kolektif, dan akan terekspresikan menjadi perlawanan dan pemberontakan kolektif. Perlawanan kolektif dari orang-orang yang tersakiti yang telah satu langkah, satu tujuan, satu tekad, satu pimpinan, apalagi sebutannya kalau bukan revolusi. Perlawanan telah menjadi angan-angannya semenjak peristiwa itu.

Begitulah sepanjang perjalanan ia menyusun kembali masa depan dari titik nol, sebab yang lama telah dihancurleburkan oleh kepongahan orangtua atas anaknya. Di bis itu ia menuliskan segala perasaan yang diakibatkan peristiwa yang baru saja dialaminya. Kemarahannya, dendamnya, sakit hatinya, penderitaanya, perjalanannya, dan segala kisahnya dengan perempuan yang dicintainya.

Bis mulai meninggalkan terminal. Berpuluh-puluh pedagang asongan turun berhamburan dari dalam bis digantikan oleh beberapa orang pengamen. Seorang ibu disampingnya sejak tadi memperhatikan apa yang lakukannya.

“Kuliah di mana?” tanya perempuan itu.

“Sudah selesai, Bu!”

“Sudah bekerja?”

“Sudah.”

“Di mana?”

Ia bingung menjawabnya dan merasa terganggu oleh sikap dan pertanyaan perempuan itu. Kalau disebutkan pekerjaannya membaca dan menulis, apakah si ibu akan setuju kalau itu sebuah pekerjaan? Dalam hatinya ia kesal juga pada si ibu.

“Lho, kok malah melamun?”

“Pekerjaan saya membaca dan menulis, Bu!”

Perempuan itu memandangnya heran. “Pekerjaan apa itu? Wartawan?”

“Bukan. Menulis cerpen...”  ia menyebutkannya dengan ragu-ragu.

“Oh itu, penulis. Apa yang bisa dikerjakan, ya kerjakan. Mencari pekerjaan yang enak di zaman sekarang semuanya susah. Harus memakai uang berjuta-juta, harus menyuap dulu. Yang menyuapnya paling besar, dialah yang dapat kerja. Setelah bekerja, ia harus mengembalikan modalnya. Karenanya, apa pun dilakukan, termasuk korupsi. Anak ibu juga mau masuk tentara, harus memakai uang berjuta-juta. Sudah masuk, eh malah meninggal di Aceh tertembak pasukan GAM. Jangan mau jadi tentara-lah, beresiko.”

“Penulis juga sama, Bu. Kalau isi tulisannya tidak disukai pemerintah, bisa dipenjara.”

“Ya, jangan menulis yang macam-macam saja. Pokoknya, kita harus mencari selamat. Orang kecil seperti kita tidak usah ingin yang macam-macam, bisa selamat saja sudah untung. Tidak usah cari mati,”

“Tapi, Bu, orang meninggal bisa di mana saja. Kita sedang duduk di sini saja kalau sudah harus meninggal, ya meninggal. Apa pun caranya. Kepanasan, pusing, ditodong lalu dibunuh, atau bis-nya terbalik lalu terbakar, dan semua penumpangnya meninggal, ....”

Perempuan yang mengajaknya ngobrol itu sudah terlelap tidur dengan kepala terkulai. Tidak berapa lama, setelah cerita yang ingin ditulisnya selesai, ia memilih untuk istirahat. Ia pun tertidur. Bis yang ditumpanginya banyak berhenti di tengah jalan untuk menaikkan penumpang baru. Kondektur yang rakus itu sibuk mengatur beberapa orang yang berdiri, berderet di tengah.

Tuhan menghendaki perjalanan laki-laki yang berkawan duka itu harus selesai sebelum ia berjalan langkah demi langkah untuk mewujudkan angan-angannya sebagai penulis yang membela kaum tertindas. Sebelum ia menuliskan kisah tentang penderitaan, kesakitan, dan dendam yang kerap dirasakan oleh dirinya dan oleh orang-orang miskin lainnya, sesuatu terjadi. Bis yang ditumpanginya meluncur dengan kecepatan tinggi. Di sebuah jalan yang menikung, sopir bis tidak mampu mengendalikan kemudi. Kendaraan itu oleng ke kanan dan ke kiri. Penumpang menjerit ketakutan.

Laki-laki itu terbangun, ketika ia membuka mata dan melihat ke arah depan bis, sebuah truk sudah berada tepat di depan bis. Ia memandangnya tak percaya. Ia tidak ingin melewatkan peristiwa yang menurutnya langka: menyaksikan tabrakan dua kendaraan dari dalam salah satu kendaraan yang bertabrakan. Ia dengan jelas melihat pucat pasinya wajah sopir truk ketika sedang berhadapan dengan wajah bis dalam jarak satu meter.

Brakk! Sebuah bunyi tredengar keras. Laki-laki itu sempat melihat kaca depan bis yang ditumpanginya pecah dan berhamburan. Penumpang yang berada di samping sopir terlihat menutup muka dengan tangan, kemudian jeritannya berhenti sebab bagian depan kepala truk itu sudah membentur kepalanya.

Setelah itu, ia merasakan bis bergoyang keras. Kepala para penumpang terbentur ke sandaran kursi yang ada di hadapan masing-masing. Dukk! Bunyi beberapa kepala yang menghantam kursi diikuti jeritan tiada hentinya. Beberapa saat setelah itu, ia tidak dapat melihat apa pun sebab beberapa penumpang telah menindihnya hingga dirinya tertekuk.

Laki-laki itu merasakan sesuatu menyentuh kulit perutnya. Beberapa saat kemudian ia merasakan benda itu masuk dengan cepat, seiring dengan menekuknya punggung yang tertindih oleh penumpang dari belakang. Setelah itu, ia tak ingat apa-apa lagi.

 bersambung...


Bagian Kedua "Lahirnya Tragedi"


Biodata Penulis:


 Asep Pram, lahir di Cianjur, 20 November 1979. Semasa kuliah aktif di Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS), Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Belajar menulis beberapa genre sastra seperti puisi, cerita pendek, dan novel. Beberapa cerita pendek dan puisinya pernah dipublikasikan di beberapa media massa cetak di Bandung dan di buku antologi bersama.

Novel pertama yang pernah ditulisnya berjudul Yang Melawan (2004), dipublikasikan secara stensilan dan dibahas dalam diskusi mingguan di ASAS. Novel keduanya berjudul Vademikum (2005), dijadikan sebagai mahar pada pernikahannya.

Menyelesaikan studi tentang kebijakan pada Magister Studi Kebijakan, Universitas Gadjah Mada pada tahun 2011.

Posted by
Unknown

More
Diberdayakan oleh Blogger.

Copyright © 2012 Berkawan untuk MelawanTemplate by : UrangkuraiPowered by Blogger.Please upgrade to a Modern Browser.